Monday, April 28, 2014

Flash Back for Future - Catatan Galau Masa Transisi

Masih ingat ketika pertama kali menginjakkan kaki ke calon SMA saat pendaftaran. Masih mengenakan seragam SMP, aku melewati lorong koridor gedung utama sekolah lantai 1 yang penuh lemari piala di sisi kanan dan kiri. Hingga akhirnya aku dinyatakan lolos masuk ke SMA itu, aku pernah ber-azzam untuk menyumbangkan minimal 1 piala untuk almamaterku. Tahun berganti tahun masa SMA yang penuh warna kulewati hingga tak terasa hampir usai masaku di SMA dan aku sadar belum ada satu pun piala yang kusumbangkan untuk sekolah. Bahkan hingga lulus. Akhirnya aku harus cukup menelan ludah mengingat ketidakmampuan diri memenuhi azzam yang dibuat sendiri.

Fase berikutnya di bangku kuliah. Meskipun bukan perguruan tinggi yang favorit, tapi sejauh yang kuingat, tidak pernah ada penyesalan aku pernah kuliah di sana. Pertama menghirup udara kampus, lagi-lagi aku ber-azzam hal yang sama ketika aku pertama masuk SMA. Ya, aku ingin mengukir prestasi yang membanggakan untuk almamaterku. Dan lagi-lagi tak terasa usai sudah masa studiku di kampus itu dan lagi-lagi tanpa memenuhi azzamku.

Kemudian tahun-tahun pasca kuliah, dunia kerja menjadi pos utama kehidupan padahal sebelumnya tidak terbayang bakal menjadi wanita karir. Dalam bayanganku sebelumnya, hanya institusi pendidikan yang terus menjadi pos utama kehidupanku selain pos keluarga dan tetangga. Tapi begitulah kenyataannya, pos pekerjaan menjadi duniaku saat ini. Namun pertama kali masuk ke dunia kerja, idealismeku tidak se-yakin dulu ketika pertama kali masuk SMA maupun kuliah. Pertama kerja, aku tak memiliki azzam apapun untuk kantorku.

Seiring berjalannya waktu, hati nurani mulai kembali terusik. Kenapa mudah sekali mengingkari azzam. Bukankah seharusnya ada dorongan untuk mewujudkannya?

Kata orang, masa transisi. Masa ketika orang beranjak dari dunia remaja ke dunia orang dewasa. Pada masa transisi ini banyak sekali tuntutan pertanyaan hidup yang harus dijawab. Entah tuntutan pertanyaan dari diri sendiri maupun dari orang lain. Alhamdulillah, cukup bersyukur aku tidak harus tertekan dengan tuntutan pertanyaan dari luar, seperti "kapan nikah?" "kapan kerja?" "Kapan S2?" mungkin. Karena emang udah kerja, jadi pertanyaan itu cukup mudah dijawab meskipun anak pinak dari pertanyaan itu tetap saja ada. Tentang kapan nikah, sejauh ini sih masih cukup nyaman dengan jawaban "Yo nek wis jatahe lak yo nikah. Dongane wae mugo-mugo ndang diparingi yang terbaik" yang kurang lebih translatenya Ya kalau sudah saatnya ya pasti nikah. Do'anya saja semoga segera diberikan yang terbaik. Jawaban yang cukup absurd tapi cukup lah untuk melegakan bagi yang bertanya. Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang alhamdulillah sejauh ini tidak sampai membuat tertekan.

Tapi dari sekian pertanyaan ada pertanyaan dari dalam diri yang sungguh mengusik dan cukup mengiris hati.

Sunday, April 13, 2014

Petualangan Bikin Paspor di Jogja

Setelah sekian lama ngomong tok mau bikin paspor (pamernya udah bertahun-tahun yang lalu kalau mau bikin paspor) akhirnya bulan ini tekat berhasil memaksa otakku untuk memerintahkan sang kaki untuk melangkah kantor imigrasi kelas I D.I Yogyakarta demi mengurus pembuatan paspor baru.

Layaknya seorang nubie culun yang tak tahu menahu tentang prosedur pembuatan paspor, aku juga searching dan tanya sana sini. Informasi paling penting yang kubutuhkan saat itu adalah "Sabtu buka ga?" dan jawabannya adalah tidak. Temanku menyarankan untuk ambil formulir dulu aja.
Akhirnya hari Jum'at pas jam istirahat, jam 12.30 aku tancap gas ke Kantor Imigrasi Kelas 1 Yogyakarta yang berlokasi di dekat Bandara Adi Sucipto di Jalan Solo. Kalau dari arah Solo, pertigaan Bandara itu lurus dikit ntar kiri jalan ada kantor Imigrasi Kelas 1 Yogyakarta. Kalau dari arah kota Jogja, sebelum pertigaan bandara putar balik di depan Pom Bensin.

Sampai di kantor langsung menuju parkir di basement. Di basement itu ada fotocopian. Berhubung memang masih jam istirahat, iseng aja mampir dulu di fotocopian siapa tahu ada informasi mendukung. Ternyata memang ada, informasi pentingnya adalah, semua berkas yang dilampirkan untuk mengurus paspor harus berukuran A4. Oke, catet.
"Fotocopy semua dokumen persyaratan paspor dengan menggunakan kertas A4...."

Thursday, March 13, 2014

Lagi-Lagi tentang Ukhuwah

Beberapa pekan yang lalu aku posting tentang pengendalian emosi. Sebenarnya itu didasari dari konflik ukhuwah yang alhamdulillah dapat terselesaikan dengan outstanding karena atas izin Alloh kedua belah pihak dapat mengendalikan dan mengelola emosi. Semoga seterusnya bisa seperti itu.

Masih berkaitan dengan ukhuwah. Ukhuwah Islamiah atau persaudaraan yang islami itu baru terbukti di saat-saat yang tidak enak. Saat konflik ada, di situlah ukhuwah diuji dan dibuktikan. Kali ini akan kuceritakan sebuah kisah yang menurutku mengharukan. Tapi berhubung kemampuan menulisku sangat standar, entahlah, kalian bisa merasakan apa yang kurasakan atau tidak. Oiya, sebelum aku mulai, perlu diinfokan bahwa sebenarnya aku belum minta izin yang bersangkutan untuk membagi cerita ini. Jadi kita anonim aja ya semua nama-nama terkait.

Sebut saja namanya RJ. Sebelumnya aku sama sekali tidak mengenal RJ (bahkan sampai sekarang). Jangankan mengenal, tahu ada makhluk bernama RJ saja tidak. Qodarullah, aku bergabung dengan teman-teman tim sukses seorang calon legislatif dari sebuah parta dakwah dan membuat group di WhatsApp untuk saling berkoordinasi. Tujuan utama dibuatnya group tersebut memang untuk saling berbagi informasi terkait program-program baik jangka pendek maupun jangka panjang yang akan diimplementasikan di masyarakat. Tapi kadangkala ada juga yang share topik-topik di luar program-program kita, termasuk informasi yang disampaikan oleh salah seorang anggota group yang mengabarkan bahwa ada anak kontrakan yang kesurupan sejak kemarin malem (Kamis malam pekan pertama bulan Maret). Qodarullah, salah seorang anggota group yang lain (sepertinya) berpengalaman rukyah, kemudian melalui WA memandu teman-teman yang di kontrakan untuk rukyah.
"Baca surat ini, baca surat itu. Anaknya diginiin, kasih ini, kasih itu, dll" yah aku memang lupa apa saja yang diinstruksikan. *seingatku selama 23 tahun hidup, tidak pernah lihat orang kesurupan.

Wednesday, March 12, 2014

Kemarilah, Maka Kuceritakan Tentang Jepang

Datanglah kemari, maka akan kuceritakan engkau tentang Jepang. Nggaya... ke Jepang baru di mimpi doang mau cerita tentang jepang.
Tapi tak apa lah ya.... sumbernya dari si boss yang baru pulang dari Jepang. Sebenarnya ini cerita tahun lalu, tapi baru keinget sekarang buat diposting, lumayan untuk rame-ramein blog.
Yaap... dimulai dari mendengar cerita-cerita tentang negeri sakura dulu, nanti seiring berjalannya waktu pasti semakin mendekat menuju ke sana beneran #someday.
Waktu cerita-cerita itu ada beberapa poin yang baru kuketahui tentang Jepang. Ini aku buatkan beberapa listnya. Entah bener atau salah pada kenyataannya, yang sudah pernah ke Jepang, silakan dikoreksi :D

1. Beli tanah di Jepang terbatas
Katanya, orang Jepang jarang yang punya sertifikat tanah, kebanyakan cuma sewa-sewa apartemen atau ngontrak. Katanya memang ada regulasi yang sangat ketat untuk masalah jual beli tanah. Sebenarnya aku belum menemukan informasi ini waktu googling, jadi entah bener atau salah atau kurang tepat, who knows 

2. Taksi di Tokyo mehong gila

Friday, February 28, 2014

[Solved] - Mengatasi Unreadable Drive/Partition

Salam,

Wiii rasanya lama kali ga berurusan dengan 'masalah'. Waktu temen ng-WA ada masalah sama hardisk eksternalnya, otomatis lah langsung kuterima tantangan itu. Jadi ceritanya si teman itu, sebut saja namanya Bunga *bukan nama sebenarnya punya hardisk 500 GB dengan 4 partisi yang masing-masing partisi diberi nama Autumn, Summer, Spring, Winter. Nah, curhat kalau partisi Autumn tidak bisa dibuka. Waktu pertama dicolokin ke komputer minta format. Trus nama partisinya juga ilang jadi bukan Autumn lagi tapi Local Disk. Kalau di klik tu partisi muncul notifikasi
Notifikasi dari Windows, partisi tidak bisa diakses
Sebagai teman yang baik hati yang rajin menabung dan lagi tidak sombong, aku minta bunga antarkan hardisknya ke kantorku biar aku cek nanti kalau di kost. Bunga setuju, dan sorenya dengan menggeber beat putihnya dia meluncur ke kantorku sepulang kuliah S2nya yang super padat dan tampaknya telah merubah ritme hidupnya demi menyelamatkan data-data 'penting' di dalam partisi Autumn.

Saturday, February 22, 2014

Emosilah, Maka Kamu Kalah


Pernah merasakan dongkol? Jengkel? Marah? Rasanya pengen ngumpat? maki-maki orang seenaknya? Wis pokoknya kalau hati lagi dipenuhi emosi memang rasanya enak banget kalau ngumpat. Loss aja gitu kalau ngumpat. Ga tahu kenapa tapi memang mengumpat itu melegakan. Memaki-maki orang seenak udel juga menyenangkan. Yang ga suka ngumpat&maki-maki orang, trust me it works.
Jangan salah paham dulu, aku emang bilang ngumpat itu enak, tapi bukan berati aku pelakunya. Pernah sekali dua kali nyoba aja dengan tidak ada obyek yang ditujukan rasanya nyoss banget tapi asli, A-S-H-L-I itu ga enak didengar dan berefek sangat panjang. Apa saja efek panjang itu? Nih, aku sebutin, tapi ini menurut hemat saya lho ya *yang hemat aja, yg reguler mahal katanya :D

Wednesday, February 12, 2014

Ngajar Ngajar Ngajar


Kerja apa? Kok ga ngajar? kenapa ga jadi dosen aja? Kerap kali menerima pertanyaan seperti itu. Bahkan kadang sekilas-kilas--dan akhirnya jadi berkilas-kilas--pertanyaan itu juga muncul dari dalam diri.

Baiklah, kali ini aku pengen bahas tentang profesi mengajar. Menurut pandanganku pastinya. Mau sepakat atau tidak, itu urusan belakangan, yang penting yang depan tetep aku *iki jane ngomongke opo to -_-
ya pokoknya gitu. Jadi kembali ke bahasan awal. Sejak mulai diajari bercita-cita, seingatku, aku tidak pernah bercita-cita jadi guru, dosen, atau semacamnya. Alasannya simple, karena keluargaku--terutama dari garis ibu--adalah guru. Mulai dari Kakek sampai 5 dari 6 anaknya adalah guru. Bahkan 4 dari 6 menantunya pun adalah guru. Jadi bisa dibayangkan betapa inginnya jiwa muda pengelana ini mengarungi jalur hidup yang berbeda dengan leluhurnya (yang sebenarnya lebih dimotivasi oleh rasa bosan). Apakah aku tidak mensyukuri itu? Tidak. sama sekali tidak. Justru aku sangat sangat sangat bersyukur lahir dan dibesarkan di lingkungan pendidik. Hampir semua aspek kehidupanku didasarkan pada ilmu pendidikan, kasarnya, ga perlu sekolah pun rasanya cukup untuk bisa membaca, menulis, berhitung, ngaji, sholat, dsb, dsb.