Showing posts with label curhat. Show all posts
Showing posts with label curhat. Show all posts

Saturday, April 27, 2024

Mudahkan jangan Dipersulit

Baru saja membaca sebuah tulisan singkat di Facebook yang dibagikan oleh seorang sahabat. Tulisan itu menceritakan seorang habib yang berdakwah di sebuah desa di Afrika. Seorang kepala desa mengatakan mau masuk Islam tapi tidak mau salat. Tanpa mempersulit, Sang Habib pun membimbing Sang Kepala suku bersyahadat. Saat Eid, Sang Habib mengajak Kepala Suku untuk salat Eid karena ringan, hanya dua rakaat. Kemudian pada Hari Jumat, Sang Kepala Suku mulai diajak lagi, karena sama ringannya dengan salat Eid, hanya dua rakaat. Kemudian Sang Kepala Suku mulai menambah salat mulai dari Magrib dan terus menambah ibadah tanpa ada paksaan.

Entah bagaimana kebenaran cerita tersebut, aku mendapatinya masuk akal dan setuju dengan pesan yang disampaikan untuk tidak mempersulit orang masuk Islam dan mendapatkan hidayah. Kita manusia biasa yang tidak memiliki hak untuk menghakimi status spiritual seseorang. Apalagi dalam hal ini sangat mudah kita merasa mendapat hidayah lebih dulu kemudian merasa cukup 'senior' untuk mengajari tentang agama kepada mualaf atau orang yang baru 'hijrah'.

Bagiku, cerita itu memberi kesan yang lebih karena tepat seperti pengalaman pribadi. Aku dan suami adalah teman baik sebelum kami mulai ada rasa dan memutuskan untuk menikah. Saat itu, suami seperti pada umumnya pemuda Eropa masa kini, agama bukan lagi untuk diimani dan menikah hanyalah masalah administrasi dan keuntungan pajak. Sedangkan aku, dari kecil dibesarkan di lingkungan yang beragama dan sangat mensakralkan konstitusi pernikahan.  Sehingga jelas dari awal kami tak ada niatan untuk hubungan yang lebih dari teman.

Wednesday, June 17, 2020

Cerita di Balik Layar

"Kok nikah sama mualaf? Kenapa ga sama yang dari awal muslim?"

"Kenapa ga nikah aja sama orang Indonesia?"

"Gimana tu nikahnya? Kok orang tua ngijinin?"

"Gimana perasaan orang tua? Anak perempuan satu-satunya, malah orang lain yang menikahkan."

and so on, and so forth. 

Hokkoku-shinbun (Harian Hokkoku), 26 Mei 2020
Tanggal 29 Desember 2019, hari itu hari dimana kami mendapat restu orang tua untuk menikah asalkan lelaki itu menjadi muslim dan mau terus belajar dan berusaha menjadi muslim yang utuh. Sejak hari itu kami pun fokus dengan belajar lagi untuk menjadi muslim yang paling standar (memenuhi rukun Islam). Awalnya kami berpikir akan membutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk membuatnya yakin memutuskan masuk Islam. 

Namun, ternyata sejak tanggal 29 Desember 2019 itu kami intens berdikusi tentang Islam dan dia pun di hari yang sama tiba-tiba berinisiatif untuk mulai ikut sholat. Detail mengenai bagaimana kami pertama mengenal hingga akhirnya memutuskan untuk menikah aku tulis di postingan lain dalam bentuk cerita bersambung yang berjudul Cerita dan Tarian. Dalam cerita tersebut, nama disamarkan (meskipun mudah untuk dikenali sih), tapi kejadiannya nyata. Ceritanya pun belum selesai ditulis. Masih bersambung.

Long story short, berawal dari kunjungan ke rumah Pak Matsui dan mbak Hikmah, sebagai sesepuh Ishikawa Muslim Society, pada tanggal 4 Januari 2020,

Monday, April 13, 2020

Kenapa Belum Menikah? (Part 2)

Tulisan ini adalah lanjutan dari postingan Kenapa Belum Menikah? (Part 1) hampir setahun lalu, di masa galau beratttt, masa-masa bangkit dari keterpurukan (halah lebay). Sungguh, menyakitkan, karena sebenarnya dari lubuk yang terdalam, aku pun menginginkannya sejak lama. Menikah. Semakin hari saking lamanya menunggu (menurutku lama sih), diri ini semakin sensitif dengan kata "menikah". Sehingga pertanyaan-pertanyaan semacam "kapan menikah" dan kawan-kawannya rasanya menjadi seperti bentuk "penghinaan" dan palu godam yang memukul remuk hati ini (lebay meneh...... -_-). Berlebihan? Mungkin. Tapi ya... gimana ya... emang gitu sih rasanya. Intinya, setiap orang ada alasan mereka masing-masing. Jadi mari kita khusnuzhon saja dan tidak banyak bertanya kecuali memang niat ingin membantu. Kalau sekedar kepo, mending di-rem saja dulu lah.

Melanjutkan dari tulisan sebelumnya, aku cuma mau berbagi tentang hasil perenungan panjangku terutama tentang masalah jodoh dan hidup (hmmm topik yang berat). Aku sendiri sudah ingin menikah sejak SMA. Bukan, bukan ingin nikah saat SMA, tapi niatan itu sudah ada sejak SMA sehingga berani pasang target nanti menikah umur 21. Jadilah begitu menginjak umur 21, aku langsung memasukkan curriculum vitae (CV) ke guru ngaji untuk dicarikan jodoh. Namun, percayalah, sejak saat pertama kali memasukkan CV tahun 2011 hingga sudah diupdate berkali-kali tahun demi tahun, dari satu guru ke guru berikutnya, tidak pernah satu pun yang mau "proses". What's wrong with me!!!!! Apa profilku sebegitu jeleknya hingga tak satupun bahkan mau mencoba mengenalku lebih dalam? Ngenes kan? 

Namun aku tak sedih. Life must go on no matter what. Hingga pada akhirnya ada kejadian yang menjadi titik balik caraku melihat, berpikir, dan menyikapi hidup. Dari kejadian itu, pertanyaan demi pertanyaan fiosofis kembali memenuhi pikiran. Apa yang sebenarnya aku inginkan? Berusaha benar-benar jujur dengan diri sendiri. Se-egois dan sebodoh apapun keinginan itu, coba jujur pada diri sendiri.

Wednesday, May 29, 2019

Kenapa Belum Menikah? (Part 1)

Mupung menjelang lebaran nih, sepertinya harus banget nge-posting beginian. Karena, demi apa ya, pertanyaan itu cukup krusial dan sensitif terutama untuk wanita yang mulai menginjak umur 25 tahun ke atas. Budaya kita memang ya (termasuk aku) untuk suka kepo-kepo sampai hal-hal pribadi yang sebenarnya ga ngefek  juga sama hidup kita dan kita pun tak bisa bantu. Tapi ya gimana ya.... kadang rasa penasaran memang tak terbendung.

Jadi dulu waktu itu aku masih 25 tahun. Oke, pada tahun itu lebih dari selusin temanku menikah (seriusan ga lebay). Tapi aku masih cukup santai sih karena pada waktu itu bisa dikatakan aku sedang fokus menjajaki mimpi lama yang baru saja tercapai. Nah, di negeri sakura pada waktu itu aku bertemu dengan seorang akhwat yang maashaaAllah menurutku perfect!!! Cantik, hafidzoh, pinter masak, pinter akademisnya (S3 beasiswa MEXT loh), tidak sombong, kalem, ramah, guru ngaji, senang menolong orang, gemar sedekah terutama sedekah makanan untuk "kaum pa pa" (baca: sesama mahasiswa single yang kismin. wkwkwk), baik dengan tetangga (jarang-jarang loh di apartemen kenal tetangga sebelah). Sempurna kan? Iya.. tau tau, tak ada manusia sempurna, tapi kan secara kasat mata kalau kita melihat, kurang apa lagi si embak untuk dijadikan pendamping bagi seorang lelaki. Makanya, saat aku menginap di apartemen beliau, rasa penasaran mengalahkan segalanya. Akhirnya kuberanikan bertanya,

"Mbak, sebelumnya maaaf banget. Maaf banget. Aku mau tanya, tapi kalau sekiranya mbak keberatan menjawab gapapa lho," introku. 
"Mbak, maaf nih, kok mbak belum menikah?" langsung to the point (memang eike agak susah berbasa basi anaknya -_-).
"Sekali lagi kalau keberatan ga usah dijawab gapapa lho." (Tapi ga enakan -_-').

Tuesday, July 25, 2017

Niat Baik

 
Niat baik terkadang tidak dibarengi dengan sikap yang benar. Kok bisa? Bisa saja. Misal saja, ada temanmu yang curhat. Seringnya dengan (sok) heroiknya, kita kasih saran dan sok-sok-an membantu. Bukannya membantu, tapi sebenarnya yang kita lakukan malah memperburuk keadaan.
Mungkin ini adalah karma. Kupikir aku dulu banyak berjasa kepada teman-teman karena (kumerasa) sudah banyak membantu permasalahan mereka tanpa diminta.
Tapi nyatanya, apakah yang kulakukan itu benar?
Kupikir aku sudah cukup bijak menasehati mereka yang curhat padaku. Menyampaikan teori-teori "ideal" yang kutahu. Padahal, aku sendiri bahkan belum pernah merasakannya.
Semakin tua (#uhukkk) kusadar, benar-benar sadar, bahwa
"Ngomong saja gampang"
 Prakteknya? beuh..... Ya Allah, hamba tobat. Please... ampuni hamba.... >____<


Monday, April 28, 2014

Flash Back for Future - Catatan Galau Masa Transisi

Masih ingat ketika pertama kali menginjakkan kaki ke calon SMA saat pendaftaran. Masih mengenakan seragam SMP, aku melewati lorong koridor gedung utama sekolah lantai 1 yang penuh lemari piala di sisi kanan dan kiri. Hingga akhirnya aku dinyatakan lolos masuk ke SMA itu, aku pernah ber-azzam untuk menyumbangkan minimal 1 piala untuk almamaterku. Tahun berganti tahun masa SMA yang penuh warna kulewati hingga tak terasa hampir usai masaku di SMA dan aku sadar belum ada satu pun piala yang kusumbangkan untuk sekolah. Bahkan hingga lulus. Akhirnya aku harus cukup menelan ludah mengingat ketidakmampuan diri memenuhi azzam yang dibuat sendiri.

Fase berikutnya di bangku kuliah. Meskipun bukan perguruan tinggi yang favorit, tapi sejauh yang kuingat, tidak pernah ada penyesalan aku pernah kuliah di sana. Pertama menghirup udara kampus, lagi-lagi aku ber-azzam hal yang sama ketika aku pertama masuk SMA. Ya, aku ingin mengukir prestasi yang membanggakan untuk almamaterku. Dan lagi-lagi tak terasa usai sudah masa studiku di kampus itu dan lagi-lagi tanpa memenuhi azzamku.

Kemudian tahun-tahun pasca kuliah, dunia kerja menjadi pos utama kehidupan padahal sebelumnya tidak terbayang bakal menjadi wanita karir. Dalam bayanganku sebelumnya, hanya institusi pendidikan yang terus menjadi pos utama kehidupanku selain pos keluarga dan tetangga. Tapi begitulah kenyataannya, pos pekerjaan menjadi duniaku saat ini. Namun pertama kali masuk ke dunia kerja, idealismeku tidak se-yakin dulu ketika pertama kali masuk SMA maupun kuliah. Pertama kerja, aku tak memiliki azzam apapun untuk kantorku.

Seiring berjalannya waktu, hati nurani mulai kembali terusik. Kenapa mudah sekali mengingkari azzam. Bukankah seharusnya ada dorongan untuk mewujudkannya?

Kata orang, masa transisi. Masa ketika orang beranjak dari dunia remaja ke dunia orang dewasa. Pada masa transisi ini banyak sekali tuntutan pertanyaan hidup yang harus dijawab. Entah tuntutan pertanyaan dari diri sendiri maupun dari orang lain. Alhamdulillah, cukup bersyukur aku tidak harus tertekan dengan tuntutan pertanyaan dari luar, seperti "kapan nikah?" "kapan kerja?" "Kapan S2?" mungkin. Karena emang udah kerja, jadi pertanyaan itu cukup mudah dijawab meskipun anak pinak dari pertanyaan itu tetap saja ada. Tentang kapan nikah, sejauh ini sih masih cukup nyaman dengan jawaban "Yo nek wis jatahe lak yo nikah. Dongane wae mugo-mugo ndang diparingi yang terbaik" yang kurang lebih translatenya Ya kalau sudah saatnya ya pasti nikah. Do'anya saja semoga segera diberikan yang terbaik. Jawaban yang cukup absurd tapi cukup lah untuk melegakan bagi yang bertanya. Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang alhamdulillah sejauh ini tidak sampai membuat tertekan.

Tapi dari sekian pertanyaan ada pertanyaan dari dalam diri yang sungguh mengusik dan cukup mengiris hati.