Showing posts with label Cerita dan Tarian. Show all posts
Showing posts with label Cerita dan Tarian. Show all posts

Wednesday, August 3, 2022

Menuju Tahun Ketiga

Salzburg, 2022

"Why are you crying?" tanyanya panik melihat air mataku yang meleleh begitu saja.

Aku membiarkannya memelukku untuk menenangkanku yang semakin sesenggukan. Meskipun panik, ia sabar tak memberondong pertanyaan alih-alih menungguku menjawab setelah tenang. Salju di luar pun nampaknya sehati dengannya, seolah menanti jawabku.

Kubalas pelukannya sesaat kemudian. "I am very grateful for what Allah has given to me. You ... are more than what I want and need. You are the answer to my prayers. Only that Allah gave me more than what I have ever expected," kataku akhirnya. "And I couldn't hold my tears ... because of happiness and gratefulness."

Salju di luar mulai turun seiring dengan semakin erat pelukannya menambah syahdu malam itu. Baru satu pekan usia pernikahan kami saat itu. Pernikahan yang kami putuskan dalam sekejap mata seolah tanpa pikir panjang. Meskipun hampir satu tahun kenal dan berteman, tak ada kisah romantis sebelumnya hingga ia beranikan melamar langsung ke bapak, sekitar sepekan sebelum tiba-tiba menikah. Lamaran cowboy yang harus kuterjemahkan sendiri dari seorang 'kawan' dengan kaos oblong dan celana pendek kepada wali atas hidupku saat itu, sang bapak. 

Banyak percakapan, diskusi, dan curahan hati selama kami berkawan yang akhirnya mengarah ke perbincangan serius tentang kemungkinan mengarungi masa depan bersama. Seperti umumnya orang barat yang tidak betul-betul meyakini agama, awalnya pernikahan bukan menjadi prioritas hidupnya.  Sementara itu aku yang memilih nilai-nilai Islam sebagai pedoman hidup, memandang pernikahan adalah salah satu tujuan hidup (kalau bisa).  Meskipun tak menisbatkan diri pada aturan agama tertentu, ada nilai-nilai yang dia pegang dalam hidup diantaranya menjadi manusia yang bermanfaat dan tidak merugikan manusia lain maupun lingkungan. Prinsip hidup yang pada dasarnya sejalan pula dengan nilai-nilai Islam yang kupegang. Namun, memilih Islam berarti memilih untuk taat dengan aturan yang ditetapkan Allah sesuai Al-Qur'an dan sunnah. 

Friday, December 31, 2021

Melamar Diri Sendiri

Di ruang tamu siang itu kami terbagi ke dalam tiga kubu. Di kubu kanan, duduk Dwi, salah satu adik lelakiku, yang malah terkikik geli ketika kulirik dengan tatapan ganas. Di sampingnya tampak Rez, adik lelakiku yang lain, senyum-senyum menanti apa yang akan terjadi beberapa menit ke depan. Mei, istri Rez, yang meskipun sedang sibuk bermain dengan putrinya pun berusaha untuk tidak ketinggalan momen.

“Sssttt … heh,” sergah Ibu menyuruh Dwi berhenti terkikik. Dwi masih berusaha menahan tawa melihatku mencoba menutupi sikap malu-malu dan salah tingkah yang mungkin terlalu jelas untuk disembunyikan. Ibu dan Bapak yang duduk di kubu kiri makin tak sabar menunggu apa yang akan disampaikan si kubu tengah, aku dan lelaki yang duduk di sebelah kiriku. “Wis … gek ndang ngomong,” kata Bapak menyilakan kami berbicara setelah semua tampak siap mendengarkan.

Segera kualihkan pandang kepada lelaki yang dari tadi diam tak mengerti sepatah kata pun dari yang dibicarakan anggota keluargaku. Kuanggukkan kepala sebagai kode bahwa dia sudah dipersilakan berbicara oleh si tuan rumah yang dibalas dengan anggukan juga olehnya. Selama sepersekian detik rasanya aku ingin tertawa melihat wajahnya yang lebih pucat dari biasanya karena nervous. Untunglah aku cepat menahan diri dengan berempati jika aku di posisinya mungkin aku juga panik. Akhirnya suasana ruang tamu menjadi sunyi senyap, bahkan keponakanku yang tadi sibuk bernyanyi sendiri tiba-tiba diam.

Friday, December 18, 2020

[Cerita dan Tarian] V - It just Feels Right

(cerita sebelumnya [Cerita dan Tarian] IV)


Sesekali kulirik lelaki di sebelahku ini. Bukan pertama kalinya aku bepergian jauh dengan seorang lelaki baik untuk perjalanan profesional atau sekedar liburan. Namun kali ini rasanya berbeda, apalagi setelah ia menjawab pertanyaan pertama tadi. Aku merasa ada harapan dan selangkah lebih maju. 

Petang keesokan harinya, kami sudah mendarat di terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Udara hangat menyambut begitu kami keluar dari pesawat. Kelembaban tropis begitu setelah beberapa jam lalu masih dalam aroma musim dingin. Tapi itu tak jadi soal. Daripada memikirkan cuaca, aku lebih sibuk dengan pikiranku karena dua hari lagi adalah hari pernikahan sepupuku, alasan utamaku pulang. Itu artinya kami akan bertemu dengan keluarga besar.

Aku yang mungkin kelihatan 'alim' di mata keluarga, untuk pertama kalinya aku membawa 'teman' dalam acara yang melibatkan keluarga besar. Orang asing lagi. Laki-laki lagi. Entahlah, aku benar-benar tidak bisa membayangkan apa reaksi dan komentar keluarga besarku. Huft, semoga tidak ada yang merasa canggung, harapku. Dan syukurlah, sepupu-sepupuku yang rata-rata lebih tua dariku sangat ramah dan membuat kita semua merasa nyaman. Dia pun nampak tak canggung meski jadi jauh lebih pendiam dari biasanya. Aku merasa tak hentinya tersenyum melihat diamnya mengamati lingkungan. Menurut pengakuannya, ini adalah belahan bumi paling selatan yang pernah ia sambangi. Belahan bumi di selatan khatulistiwa. I totally can relate. Aku sangat paham karena aku pun begitu ketika pertama kali menginjakkan kaki di Jepang. Otakku sibuk mencerna hal baru. Ada beberapa hal yang di Indonesia adalah common sense ternyata tidak di Jepang. 

"Seberapa sering kalian mengalami hujan zenith?" tanyanya waktu itu dalam perjalanan dari bandara menuju rumah salah satu sepupuku. 

"Hah? hujan apa?" tanyaku balik tak paham maksud pertanyaannya. Sepupuku, Mbak Ayu, yang menjemput kami di bandara pun tak kalah bingung. 

Dia pun berusaha menjelaskan diskripsi hujan yang dimaksud yaitu hujan yang terjadi akibat pertemuan dua angin pasat yang membentuk gumpalan naik ke atas awan karena pemanasan yang akhirnya menyebabkan awan menjadi menjadi menggumpal, kemudian mengalami titik jenuh, dan akhirnya hujan. 

"Ya emang gitu kan yang namanya hujan?" aku masih gagal paham kenapa dia tanya hal yang sudah jelas. Butuh beberapa waktu dan sedikit diskusi sengit untuk hanya membahas tentang hujan sampai akhirnya aku ingat memang ada beberapa jenis hujan. Aku tidak ingat pelajaran geografi yang entah sudah berapa abad yang lalu tentang macam-macam hujan karena di Indonesia kita paling sering mengalami satu macam hujan saja, hujan tropis. Hujan yang membuat kita basah kuyup seketika. Tapi ketika aku di Jepang, kadang aku merasa hujan di Jepang aneh. Kadang hujannya "bercanda" doang karena tidak membuat basah kuyup tapi cukup nampak terlalu lebat untuk disebut hujan rintik-rintik. Bukan aku saja orang Indonesia yang pernah mengomentari kalau hujan di Jepang ini ga bikin basah. Mbak Ayu pun yang pernah mengunjungiku di Jepang mengomentari hal yang sama. 

Barulah aku sadar ini salah satu common sense gap di antara kita. "Oh I see... ya maaf, kita lupa ada macam-macam hujan. Di Indonesia ya seperti ini hujannya. Bulirnya besar-besar langsung bikin basah," jawabku akhirnya menutup bahasan tentang hujan.

Friday, August 7, 2020

[Cerita dan Tarian) IV - Taaruf

(cerita sebelumnya [Cerita dan Tarian] III)



"Sarah sudah ada calon? Kalau belum, ini ada yang mau taaruf." tiba-tiba sebuah pesan singkat muncul di notifikasi ponselku. Dari seorang kawan lama. Aku bingung apa yang harus kujawab. Hampir satu bulan masih saja tak ada tanda-tanda ia akan menjawab pertanyaan pertama. Ia bahkan tetap pergi ke Vietnam mengunjungi kawan wanitanya, yang sebenarnya juga kawanku. Tak ada yang salah sebenarnya dengan perjalanan dia ke Vietnam, karena memang ia sudah merencanakan jauh-jauh hari sama halnya rencana perjalanan ke Indonesia. 

"Akhir Desember aku mau pulang ke Indonesia, karena sepupuku mau nikah. Kamu jadi mau ikut tak? Mungkin ini kesempatan terakhirmu ke mengunjungiku di Indonesia lho," kataku beberapa bulan lalu seusai lab party di rumah kontrakannya . Waktu itu aku belum kepikiran tentang tiga pertanyaan. Jangankan tiga pertanyaan, pemikiran bahwa aku mulai tertarik padanya saja berkali-kali kutepis. Namun, nafsu sering kali terus berusaha mencari tempat di hati sehingga bayangan berperjalanan pulang kampung dengan seorang kawan, apalagi dengannya, terasa sangat menyenangkan.

"Iya sih... Aku kupikirkan lagi nanti."

"Jangan kelamaan mikirnya. Paling lambat Senin besok kabari keputusanmu ya. Aku mau beli tiket hari itu karena akan ada diskon Senin itu sampai jam 24."

"OK!" 

Sebenarnya tak hanya dia saja yang kuajak ke Indonesia. Kuajak pula kawan-kawan lain agar lebih ramai dan seru perjalanan mudikku nanti. Tapi sejauh ini tidak ada meng-iya-kan ajakanku dengan berbagai macam alasan. Pada akhirnya hanya dia yang nampaknya masih tetap ada keinginan. Namun hinggal 2 bulan sebelum tanggal kepulanganku ia belum juga memberi keputusan, padahal aku harus segera memesan tiket.

"Oh ya, kalau kamu beneran jadi ikut, itu membuatku jadi lebih bahagia. hahaha," tambahku sebelum aku benar-benar pulang bersama kawan yang lain. Dia tampak tersenyum. "Membuatku jadi lebih bahagia". Tak kusangka aku benar-benar mengucapkan itu. Hari itu aku memang berencana mempraktikkan 'ilmu' dari sebuah video dating tips yang kutonton beberapa hari ini, semacam tips-tips motivasi untuk menjadi diri yang lebih menarik dan memahami apa yang biasanya terjadi dalam sebuah hubungan laki-laki dan perempuan. "Ungkapkan dengan jelas bahwa keberadaannya membuat kita lebih bahagia", kata motivator dalam video itu.  Kupikir It Works!  Ia tersenyum dan keesokan harinya konfirmasi kalau dia mau ikut liburan ke Indonesia akhir Desember nanti. 

Wednesday, June 17, 2020

Cerita di Balik Layar

"Kok nikah sama mualaf? Kenapa ga sama yang dari awal muslim?"

"Kenapa ga nikah aja sama orang Indonesia?"

"Gimana tu nikahnya? Kok orang tua ngijinin?"

"Gimana perasaan orang tua? Anak perempuan satu-satunya, malah orang lain yang menikahkan."

and so on, and so forth. 

Hokkoku-shinbun (Harian Hokkoku), 26 Mei 2020
Tanggal 29 Desember 2019, hari itu hari dimana kami mendapat restu orang tua untuk menikah asalkan lelaki itu menjadi muslim dan mau terus belajar dan berusaha menjadi muslim yang utuh. Sejak hari itu kami pun fokus dengan belajar lagi untuk menjadi muslim yang paling standar (memenuhi rukun Islam). Awalnya kami berpikir akan membutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk membuatnya yakin memutuskan masuk Islam. 

Namun, ternyata sejak tanggal 29 Desember 2019 itu kami intens berdikusi tentang Islam dan dia pun di hari yang sama tiba-tiba berinisiatif untuk mulai ikut sholat. Detail mengenai bagaimana kami pertama mengenal hingga akhirnya memutuskan untuk menikah aku tulis di postingan lain dalam bentuk cerita bersambung yang berjudul Cerita dan Tarian. Dalam cerita tersebut, nama disamarkan (meskipun mudah untuk dikenali sih), tapi kejadiannya nyata. Ceritanya pun belum selesai ditulis. Masih bersambung.

Long story short, berawal dari kunjungan ke rumah Pak Matsui dan mbak Hikmah, sebagai sesepuh Ishikawa Muslim Society, pada tanggal 4 Januari 2020,

Saturday, June 13, 2020

[Cerita dan Tarian] III - Tiga Pertanyaan

(cerita sebelumnya, [Cerita dan Tarian] II )



Sepekan sebelumnya, dalam perjalan menuju dance class di Kota sebelah, 

"What are you looking for in a relationship?" Apa yang kamu cari dari sebuah hubungan? Tanyaku ketika kulihat ada kesempatan. Biasanya kami pergi bertiga, tapi kali ini Sabrina tidak ikut. Dia dan Sabrina adalah kawan akrab semenjak dia pertama datang di kampus kami. Sama-sama penari. Dulu waktu kecil mereka sama-sama ikut kelas balet. Tapi beranjak dewasa Dia lebih fokus pada ballroom dance sedangkan Sabrina lebih senang free style dance. Tapi intinya keduanya suka menari dan akhirnya tergabung dalam sebuah tim Yosakoi, sebuah aliran tarian modern-transional Jepang.
Selain itu, mereka dua juga ikut klub tari di kota sebelah. Biasanya Sabrina yang memimpin dan mengajar tari kecuali kalau berhalangan hadir, Dia yang akan menggantikan Sabrina seperti malam ini. Kadang aku ikut mereka ke klub tari karena bosan dan mati gaya di asrama kampus yang berada di tengah antah berantah.

"Intinya dalam sebuah hubungan, aku ingin kita sama-sama independently dependent," jawabnya setelah sedikit rileks dari konsentrasi menyetir. Sebelum aku sempat menanyakan maksud jawabannya, dia sudah melanjutkan penjelasannya."Jadi aku ingin kita masing-masing tetap memiliki kehidupan sendiri misalnya pekerjaan dan aktivitas tidak harus sama. Pasanganku tetap harus bekerja dan punya kehidupannya sendiri tanpa bergantung sepenuhnya denganku. Misalnya kita harus LDR dulu beberapa bulan, aku tidak masalah. Tapi pada akhirnya kita masing-masing saling membutuhkan satu sama lain dan selalu membutuhkan satu sama lain untuk terus bersama."

Ia berhenti sejenak menunggu reaksiku. Aku hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun, membuatnya tak yakin apakah aku paham maksudnya. "Bingung ga? Dalam sebuah hubungan kita harus independently dependent. Paling tidak itu yang kucari. hehee..."

"No. Aku paham maksudmu. Kamu pengen wanita mandiri yang bisa mengurus dirinya sendiri tapi mau menghabiskan sisa hidupnya denganmu. Mau ikut kemana pun kamu pergi. ya kan? Sungguh egois. hahaha...." balasku akhirnya. Dia hanya mamnyunkan bibir mengiyakan. Jujur, aku tidak keberatan dengan itu meskipun terdengar egois. Tapi, siapa manusia di bumi ini yang sesungguhnya tidak egois? okee, mungkin memang ada orang seperti itu. Tapi aku selalu berpikir, manusia pasti punya ego meskipun proposinya berbeda-beda dan menurutku tak banyak orang yang mau mengakuinya meletakkan dalam proporsi yang tepat.

Monday, November 25, 2019

[Cerita dan Tarian] II - Tak Mungkin

(cerita sebelumnya, [Cerita dan Tarian] I )


"Kamu serius? Tapi dia mau pergi!" kata Mala ketika tahu siapa yang kupikirkan hingga membuatku tidak bisa tidur beberapa hari ini.

"Iya aku tahu," kataku pasrah.

"Tapi, Sarah....," Mala tak tahu harus berkata apa. Aku tahu sebenarnya bukan masalah dia yang akan pergi tapi ada hal yang lebih sulit. Sangat sulit sehingga kami pun tak berani mengucapkan sepatah kata pun selama beberapa menit.

"Huff.... OK, Sarah. Dia baik. Aku yakin dia akan menjadi pasangan yang baik untukmu. Dia akan akan selalu memberimu kejutan dan berusaha membahagiakanmu. Tapi, kau kan tahu dia seperti aku. Dia tidak akan percaya Tuhan," lepas sudah setelah beberapa waktu akhirnya Mala menemukan kata-kata untukku.  

Aku hanya diam tidak membalas sepatah kata pun. Mala pun tampak berpikir keras. Dia sangat baik, hati-hati dia memilih kata yang tepat untukku. "OK, aku tanya, siapa yang mulai?"

"Hmmm.... aku." Tambah terkejutlah Mala. Semakin tak menemukan kata. Aku paham apa yang ada di benaknya. "Tapi sebelum menyatakannya aku memastikan dulu kalau dia pun punya perasaan yang sama. Kupikir dia hanya malu untuk mengungkapkannya," lanjutku membela diri berusaha menunjukkan itu tidak seluruhnya salahku. Selama ini dia selalu bercanda di hadapan kawan-kawan yang lain bahwa dia menyukaiku, berakting seolah-olah menjadi suamiku, dan candaan sejenis. Awalnya kupikir candaan itu lucu-lucu saja karena kita semua sadar itu benar-banar hanya candaan yang tidak mungkin benar. Tidak mungkin karena selain saat itu aku sedang patah hati, semua juga tahu kalau aku tidak akan menikah dengan non-muslim. Dari awal memang aku bilang aku tidak akan tertarik dengan non-muslim untuk dijadikan suami. Sama halnya, dia pun tak pernah sebersit pun untuk menjadi muslim.

Monday, September 9, 2019

[Cerita dan Tarian] I - Percakapan Malam Itu

"Kamu tahu kan kalau aku tak akan segan menikahimu, tapi..."

"Ya kamu pun tahu kenapa itu tidak mungkin." Dan kami pun saling mengendikkan bahu. Diam sejenak menata kembali suasana. Tidak se-drama itu juga sebenarnya karena masing-masing tak ada rasa yang terlalu mendalam.

Dia kawanku, tergolong baru. Belum juga satu tahun mengenal. Jujur, awalnya aku risih karena dia sering mengirim joke joke yang aku tak paham dan terlalu banyak bertanya tentang kehidupan pribadiku. Tapi anehnya, aku tanggapi saja saat itu. Eh wajar juga sih, karena jarang-jarang ada orang baru agak awet ngobrol (hitungan bulan) denganku. Lambat laun, kumulai menyadari ternyata banyak kesamaan diantara kita berdua yang sebelumnya aku tak sadar. Sebaliknya, dia sangat tertarik untuk terus mengajakku ngobrol sejak pertemuan pertama. Dia tak menyangka di balik penampilanku, yang hanya nampak wajah dan telapak tangan, ternyata aku bisa diajak bicara.

Dari yang tadinya risih, lama-lama kumulai tertarik dengannya, satu langkah lagi untuk mencapai level 'suka'. Maka, istikharahlah yang menjadi andalan. Namun, semakin banyak istikharah, kumerasa ia semakin jauh. Kemudian ada rasa sedikit drama di diri ini. Hingga akhirnya menjelang malam itu, aku kembali meminta Sang Pemilik Hati menunjukkan jalan dan memohon agar tak ada rasa sakit hati dan drama-drama lagi.

Malam itu, setelah sekian lama tak bersua, akhirnya kita bertemu dan ada kesempatan untuk ngobrol seperti dulu ketika dia masih aktif menghubungiku. Dari percakapan itu akhirnya terbukalah satu per satu fakta yang seolah menjadi jawaban segala keresahan hati. Alhamdulillah wa syukurillah, Allah tunjukkan itu semua sebelum drama menjelma.

"2 hal yang tidak mungkin. Satu, menikah. Kedua, punya anak," katanya santai. Errr aku sempat berpikir, bukannya menikah dan anak akan jadi sepaket ya? Tapi ah sudah lah, terserah dia yang ngomong. Alih-alih memprotes kalimatnya, aku berusaha 'menyemangati'.

"Hey man, jangan pesimis gitu sih. Lihat nih posisiku lebih kasihan darimu. Umurku sudah berapa coba. Perempuan lagi. Lagian, aku penasaran, kok bisa sih orang macam kamu yang punya banyak teman dan aktivitas, ga ada satu pun yang tertarik?" tanyaku kepo.

"Well, hanya sedikit sekali orang yang bisa memahami jalan pikirku. Dan kupikir kamu diantara yang sedikit itu...."

"Ah kupikir karena cara berpikir kita aja yang emang sama," potongku.

"Justru itu yang aku cari. Beneran jarang lho yang benar-benar bisa paham maksudku. Sayangnya kamu cari yang muslim sedangkan aku tak mungkin.....,"

"Tenang man, kamu akan menemukan takdirmu sendiri, begitu pun aku, aku akan menemukan takdirku sendiri," potongku buru-buru. Aku belum sanggup mendengar ataupun mendebat apapun alasan dia belum bisa menerima Islam. Islam, yang menjadi hidupku. Aku belum siap lagi mendengar mereka, orang-orang yang tak percaya Allah, berkata hal-hal yang buruk tentangNya meskipun aku tahu mereka mengatakannya karena ketidaktahuan dan berusaha mengungkapkannya sehalus mungkin. Tapi tetap saja aku masih trauma ketika berdiskusi mengenai topik ini karena akhirnya aku sadar ilmuku belum sampai. Ada banyak hal di kepala yang ingin kusampaikan, apa daya kurangnya ilmu dan emosi yang belum terkontrol baik tak bisa membuat mulut ini mendakwahkan deen ini dengan kata-kata bijak yang mudah dipahami. Sedih, tak rela, kasihan, merasa bersalah, dll pokoknya campur aduk lah rasa di dalam diri.

"Ya," katanya sambil tersenyum. "Intinya sama lah denganmu, pilihan kita memang sulit dan mungkin tidak ada di dunia ini. Hahahaha...." Aku pun ikut tertawa miris. Selama ini aku tak pernah benar-benar paham lelaki macam apa yang aku inginkan hingga ketika beberapa waktu menjadi temannya, dia dengan cerdasnya menyimpulkan dan menyederhanakan kata-kataku. Itu lah awal mula aku mulai tertarik dengannya (tertarik ya, belum suka), ketika kusadar dia bisa memahami kalimat-kalimatku yang absurd dan menerangkan kembali yang aku katakan dengan kata yang lebih sederhana dan mudah dipahami yang bahkan aku sendiri tak menyadarinya. Maka, berawal dari analisa dia tentang 'lelaki yang kucari', aku pun mulai lebih mengenal diri sendiri.

Dan ya, miris sih, ternyata yang aku cari memang agak sulit dinalar dan memang belum pernah kutemui orang yang persis seperti 'standar' itu. Untuk beberapa waktu kemudian kita saling diam. Nampaknya mendadak ada banyak hal yang perlu dicerna otak kita masing-masing.

Tentu aku tak tahu apa yang dia pikirkan saat itu. Namun, meskipun tak kuungkapkan, aku tahu persis aku tidak 100% sepakat dengan kalimat terakhir dia, "that kind of person doesn't exist in this world". Karena aku yakin Allah telah menyiapkan skenario terbaik. Tugas kita hanya bekerja dan terus memperbaiki diri bukan? Mungkin aku sendiri yang belum memenuhi 'standar' itu sehingga belum pernah kubertemu dengan pria dengan standar itu. Juga tiada bosan memohon kepada Yang Maha Membolak-balikkan hati untuk selalu mengarahkan diri dan hati ini kepada takdir baikNya.

"Nampaknya kita harus pergi sekarang, karena kita cuma punya 10 menit lagi sekarang," katanya.

"Yeah, let's go."  



(bersambung ke [Cerita dan Tarian] II )