Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Friday, August 26, 2022

Umroh Patah Hati (Part 1)


Prolog

Sebut saja namanya Mawar, gadis berusia 26 tahun yang bercita-cita nikah muda yang tak kunjung menemukan/ditemukan tambatan hatinya. Sejak SMA Mawar sudah aktiv di organisasi keislaman dan sudah sangat 'teracuni' dengan konsep nikah muda. Salah satu model yang menjadi salah satu motivasi terbesarnya adalah ibu sahabatnya. Ibu dari sahabat Mawar ini menikah di usia 21 dan miliki 5 orang anak. Kita sebut saja ibu Dewi. Di mata Mawar, ibu Dewi adalah sosok bidadari dalam bentuk manusia dan idaman semua anak seumuran Mawar. Pada saat itu, belum populer ilmu-ilmu parenting masa kini yang mengharamkan tindak 'kekerasan' verbal, visual, maupun mental. Tentu saja Mawar sangat mencintai ibunya, tapi semakin sering Mawar menginap di rumah sahabatnya dan melihat bagaimana ibu Dewi bersikap dan mendidik anak-anaknya, tak ayal membuat Mawar terkadang membandingkan bagaimana ibunya bersikap kepadanya dan adik-adiknya.

Tapi kita tidak akan membicarakan soal bagaimana ibu-ibu itu mendidik anak-anaknya. Intinya, semakin mengamati ibu Dewi, diam-diam Mawar mengidolakannya dan ingin mengikuti jejaknya untuk menikah di usia muda. Tentu saja wacana nikah muda juga didukung dengan lingkaran pertemanan dan kegiatannya yang memang membuat Mawar tak tertarik untuk menjalin hubungan asmara atau sekedar hubungan yang melibatkan rasa. Idealismenya kukuh, tidak ada pacaran (apa pun bentuknya) sebelum menikah, perlahan tapi pasti membentuk benteng kokoh di hati yang tampaknya tak tertembus. 

Friday, December 31, 2021

Melamar Diri Sendiri

Di ruang tamu siang itu kami terbagi ke dalam tiga kubu. Di kubu kanan, duduk Dwi, salah satu adik lelakiku, yang malah terkikik geli ketika kulirik dengan tatapan ganas. Di sampingnya tampak Rez, adik lelakiku yang lain, senyum-senyum menanti apa yang akan terjadi beberapa menit ke depan. Mei, istri Rez, yang meskipun sedang sibuk bermain dengan putrinya pun berusaha untuk tidak ketinggalan momen.

“Sssttt … heh,” sergah Ibu menyuruh Dwi berhenti terkikik. Dwi masih berusaha menahan tawa melihatku mencoba menutupi sikap malu-malu dan salah tingkah yang mungkin terlalu jelas untuk disembunyikan. Ibu dan Bapak yang duduk di kubu kiri makin tak sabar menunggu apa yang akan disampaikan si kubu tengah, aku dan lelaki yang duduk di sebelah kiriku. “Wis … gek ndang ngomong,” kata Bapak menyilakan kami berbicara setelah semua tampak siap mendengarkan.

Segera kualihkan pandang kepada lelaki yang dari tadi diam tak mengerti sepatah kata pun dari yang dibicarakan anggota keluargaku. Kuanggukkan kepala sebagai kode bahwa dia sudah dipersilakan berbicara oleh si tuan rumah yang dibalas dengan anggukan juga olehnya. Selama sepersekian detik rasanya aku ingin tertawa melihat wajahnya yang lebih pucat dari biasanya karena nervous. Untunglah aku cepat menahan diri dengan berempati jika aku di posisinya mungkin aku juga panik. Akhirnya suasana ruang tamu menjadi sunyi senyap, bahkan keponakanku yang tadi sibuk bernyanyi sendiri tiba-tiba diam.

Saturday, June 13, 2020

[Cerita dan Tarian] III - Tiga Pertanyaan

(cerita sebelumnya, [Cerita dan Tarian] II )



Sepekan sebelumnya, dalam perjalan menuju dance class di Kota sebelah, 

"What are you looking for in a relationship?" Apa yang kamu cari dari sebuah hubungan? Tanyaku ketika kulihat ada kesempatan. Biasanya kami pergi bertiga, tapi kali ini Sabrina tidak ikut. Dia dan Sabrina adalah kawan akrab semenjak dia pertama datang di kampus kami. Sama-sama penari. Dulu waktu kecil mereka sama-sama ikut kelas balet. Tapi beranjak dewasa Dia lebih fokus pada ballroom dance sedangkan Sabrina lebih senang free style dance. Tapi intinya keduanya suka menari dan akhirnya tergabung dalam sebuah tim Yosakoi, sebuah aliran tarian modern-transional Jepang.
Selain itu, mereka dua juga ikut klub tari di kota sebelah. Biasanya Sabrina yang memimpin dan mengajar tari kecuali kalau berhalangan hadir, Dia yang akan menggantikan Sabrina seperti malam ini. Kadang aku ikut mereka ke klub tari karena bosan dan mati gaya di asrama kampus yang berada di tengah antah berantah.

"Intinya dalam sebuah hubungan, aku ingin kita sama-sama independently dependent," jawabnya setelah sedikit rileks dari konsentrasi menyetir. Sebelum aku sempat menanyakan maksud jawabannya, dia sudah melanjutkan penjelasannya."Jadi aku ingin kita masing-masing tetap memiliki kehidupan sendiri misalnya pekerjaan dan aktivitas tidak harus sama. Pasanganku tetap harus bekerja dan punya kehidupannya sendiri tanpa bergantung sepenuhnya denganku. Misalnya kita harus LDR dulu beberapa bulan, aku tidak masalah. Tapi pada akhirnya kita masing-masing saling membutuhkan satu sama lain dan selalu membutuhkan satu sama lain untuk terus bersama."

Ia berhenti sejenak menunggu reaksiku. Aku hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun, membuatnya tak yakin apakah aku paham maksudnya. "Bingung ga? Dalam sebuah hubungan kita harus independently dependent. Paling tidak itu yang kucari. hehee..."

"No. Aku paham maksudmu. Kamu pengen wanita mandiri yang bisa mengurus dirinya sendiri tapi mau menghabiskan sisa hidupnya denganmu. Mau ikut kemana pun kamu pergi. ya kan? Sungguh egois. hahaha...." balasku akhirnya. Dia hanya mamnyunkan bibir mengiyakan. Jujur, aku tidak keberatan dengan itu meskipun terdengar egois. Tapi, siapa manusia di bumi ini yang sesungguhnya tidak egois? okee, mungkin memang ada orang seperti itu. Tapi aku selalu berpikir, manusia pasti punya ego meskipun proposinya berbeda-beda dan menurutku tak banyak orang yang mau mengakuinya meletakkan dalam proporsi yang tepat.

Monday, November 25, 2019

[Cerita dan Tarian] II - Tak Mungkin

(cerita sebelumnya, [Cerita dan Tarian] I )


"Kamu serius? Tapi dia mau pergi!" kata Mala ketika tahu siapa yang kupikirkan hingga membuatku tidak bisa tidur beberapa hari ini.

"Iya aku tahu," kataku pasrah.

"Tapi, Sarah....," Mala tak tahu harus berkata apa. Aku tahu sebenarnya bukan masalah dia yang akan pergi tapi ada hal yang lebih sulit. Sangat sulit sehingga kami pun tak berani mengucapkan sepatah kata pun selama beberapa menit.

"Huff.... OK, Sarah. Dia baik. Aku yakin dia akan menjadi pasangan yang baik untukmu. Dia akan akan selalu memberimu kejutan dan berusaha membahagiakanmu. Tapi, kau kan tahu dia seperti aku. Dia tidak akan percaya Tuhan," lepas sudah setelah beberapa waktu akhirnya Mala menemukan kata-kata untukku.  

Aku hanya diam tidak membalas sepatah kata pun. Mala pun tampak berpikir keras. Dia sangat baik, hati-hati dia memilih kata yang tepat untukku. "OK, aku tanya, siapa yang mulai?"

"Hmmm.... aku." Tambah terkejutlah Mala. Semakin tak menemukan kata. Aku paham apa yang ada di benaknya. "Tapi sebelum menyatakannya aku memastikan dulu kalau dia pun punya perasaan yang sama. Kupikir dia hanya malu untuk mengungkapkannya," lanjutku membela diri berusaha menunjukkan itu tidak seluruhnya salahku. Selama ini dia selalu bercanda di hadapan kawan-kawan yang lain bahwa dia menyukaiku, berakting seolah-olah menjadi suamiku, dan candaan sejenis. Awalnya kupikir candaan itu lucu-lucu saja karena kita semua sadar itu benar-banar hanya candaan yang tidak mungkin benar. Tidak mungkin karena selain saat itu aku sedang patah hati, semua juga tahu kalau aku tidak akan menikah dengan non-muslim. Dari awal memang aku bilang aku tidak akan tertarik dengan non-muslim untuk dijadikan suami. Sama halnya, dia pun tak pernah sebersit pun untuk menjadi muslim.

Monday, September 9, 2019

[Cerita dan Tarian] I - Percakapan Malam Itu

"Kamu tahu kan kalau aku tak akan segan menikahimu, tapi..."

"Ya kamu pun tahu kenapa itu tidak mungkin." Dan kami pun saling mengendikkan bahu. Diam sejenak menata kembali suasana. Tidak se-drama itu juga sebenarnya karena masing-masing tak ada rasa yang terlalu mendalam.

Dia kawanku, tergolong baru. Belum juga satu tahun mengenal. Jujur, awalnya aku risih karena dia sering mengirim joke joke yang aku tak paham dan terlalu banyak bertanya tentang kehidupan pribadiku. Tapi anehnya, aku tanggapi saja saat itu. Eh wajar juga sih, karena jarang-jarang ada orang baru agak awet ngobrol (hitungan bulan) denganku. Lambat laun, kumulai menyadari ternyata banyak kesamaan diantara kita berdua yang sebelumnya aku tak sadar. Sebaliknya, dia sangat tertarik untuk terus mengajakku ngobrol sejak pertemuan pertama. Dia tak menyangka di balik penampilanku, yang hanya nampak wajah dan telapak tangan, ternyata aku bisa diajak bicara.

Dari yang tadinya risih, lama-lama kumulai tertarik dengannya, satu langkah lagi untuk mencapai level 'suka'. Maka, istikharahlah yang menjadi andalan. Namun, semakin banyak istikharah, kumerasa ia semakin jauh. Kemudian ada rasa sedikit drama di diri ini. Hingga akhirnya menjelang malam itu, aku kembali meminta Sang Pemilik Hati menunjukkan jalan dan memohon agar tak ada rasa sakit hati dan drama-drama lagi.

Malam itu, setelah sekian lama tak bersua, akhirnya kita bertemu dan ada kesempatan untuk ngobrol seperti dulu ketika dia masih aktif menghubungiku. Dari percakapan itu akhirnya terbukalah satu per satu fakta yang seolah menjadi jawaban segala keresahan hati. Alhamdulillah wa syukurillah, Allah tunjukkan itu semua sebelum drama menjelma.

"2 hal yang tidak mungkin. Satu, menikah. Kedua, punya anak," katanya santai. Errr aku sempat berpikir, bukannya menikah dan anak akan jadi sepaket ya? Tapi ah sudah lah, terserah dia yang ngomong. Alih-alih memprotes kalimatnya, aku berusaha 'menyemangati'.

"Hey man, jangan pesimis gitu sih. Lihat nih posisiku lebih kasihan darimu. Umurku sudah berapa coba. Perempuan lagi. Lagian, aku penasaran, kok bisa sih orang macam kamu yang punya banyak teman dan aktivitas, ga ada satu pun yang tertarik?" tanyaku kepo.

"Well, hanya sedikit sekali orang yang bisa memahami jalan pikirku. Dan kupikir kamu diantara yang sedikit itu...."

"Ah kupikir karena cara berpikir kita aja yang emang sama," potongku.

"Justru itu yang aku cari. Beneran jarang lho yang benar-benar bisa paham maksudku. Sayangnya kamu cari yang muslim sedangkan aku tak mungkin.....,"

"Tenang man, kamu akan menemukan takdirmu sendiri, begitu pun aku, aku akan menemukan takdirku sendiri," potongku buru-buru. Aku belum sanggup mendengar ataupun mendebat apapun alasan dia belum bisa menerima Islam. Islam, yang menjadi hidupku. Aku belum siap lagi mendengar mereka, orang-orang yang tak percaya Allah, berkata hal-hal yang buruk tentangNya meskipun aku tahu mereka mengatakannya karena ketidaktahuan dan berusaha mengungkapkannya sehalus mungkin. Tapi tetap saja aku masih trauma ketika berdiskusi mengenai topik ini karena akhirnya aku sadar ilmuku belum sampai. Ada banyak hal di kepala yang ingin kusampaikan, apa daya kurangnya ilmu dan emosi yang belum terkontrol baik tak bisa membuat mulut ini mendakwahkan deen ini dengan kata-kata bijak yang mudah dipahami. Sedih, tak rela, kasihan, merasa bersalah, dll pokoknya campur aduk lah rasa di dalam diri.

"Ya," katanya sambil tersenyum. "Intinya sama lah denganmu, pilihan kita memang sulit dan mungkin tidak ada di dunia ini. Hahahaha...." Aku pun ikut tertawa miris. Selama ini aku tak pernah benar-benar paham lelaki macam apa yang aku inginkan hingga ketika beberapa waktu menjadi temannya, dia dengan cerdasnya menyimpulkan dan menyederhanakan kata-kataku. Itu lah awal mula aku mulai tertarik dengannya (tertarik ya, belum suka), ketika kusadar dia bisa memahami kalimat-kalimatku yang absurd dan menerangkan kembali yang aku katakan dengan kata yang lebih sederhana dan mudah dipahami yang bahkan aku sendiri tak menyadarinya. Maka, berawal dari analisa dia tentang 'lelaki yang kucari', aku pun mulai lebih mengenal diri sendiri.

Dan ya, miris sih, ternyata yang aku cari memang agak sulit dinalar dan memang belum pernah kutemui orang yang persis seperti 'standar' itu. Untuk beberapa waktu kemudian kita saling diam. Nampaknya mendadak ada banyak hal yang perlu dicerna otak kita masing-masing.

Tentu aku tak tahu apa yang dia pikirkan saat itu. Namun, meskipun tak kuungkapkan, aku tahu persis aku tidak 100% sepakat dengan kalimat terakhir dia, "that kind of person doesn't exist in this world". Karena aku yakin Allah telah menyiapkan skenario terbaik. Tugas kita hanya bekerja dan terus memperbaiki diri bukan? Mungkin aku sendiri yang belum memenuhi 'standar' itu sehingga belum pernah kubertemu dengan pria dengan standar itu. Juga tiada bosan memohon kepada Yang Maha Membolak-balikkan hati untuk selalu mengarahkan diri dan hati ini kepada takdir baikNya.

"Nampaknya kita harus pergi sekarang, karena kita cuma punya 10 menit lagi sekarang," katanya.

"Yeah, let's go."  



(bersambung ke [Cerita dan Tarian] II )

Tuesday, October 23, 2018

[Seri Romansa Mawar] - Memoar Cinta Sang Jomblo



Gegara mbak-PM-yang-katanya-mau-nyusul-suaminya posting tentang cinta, aku jadi pengen nulis tentang kisah seorang wanita yang kita sebut saja namanya Mawar. Kok Mawar terus to? Lho ya ga pa pa. Kan suka-suka :P

Well, begini ceritanya

SMP 

"Mawar, kamu punyai doi?," tiba-tiba seorang kawan yang sama-sama masih ingusan melontarkan pertanyaan aneh kepada Mawar.

"Do'i?" tanya Mawar bingung. Waktu itu Mawar baru beberapa bulan mengganti langganan majalah Bobo-nya dengan tabloid remaja. Secaraaa sudah masuk SMP gitu, masak iya baca Bobo terus. Ada rasa pengen cepet dewasa ketika masuk SMP. Orang tuanya pun menyetujui meng-upgrade bacaan untuk buah hatinya. Gara-gara tabloid itu, Mawar merasa sudah menjadi anak paling gaul sekampung. Tapi nampaknya menjadi 'gaul' itu hanya di dalam angan Mawar saja. Terbukti ia masih terbengong-bengong mendapat pertanyaan itu. Berdasarkan informasi di tabloid remaja yang dibacanya, do'i itu semacam sinonim dari kata ganti dia. Lah terus, apa maksud pertanyaan tadi? Masak iya temannya tanya apa Mawar sudah punya 'dia'? Ini Mawar yang gagal paham atau kawannya yang salah dalam pengambilan diksi? Misteri.

"Iya.. do'i. Maksudnya pacar"

eee? paaacaaar??....makanan apa itu? #ngelapingus
Meskipun Mawar sudah merasa sangat gaul, tapi kata 'pacaran' masih sangat tabu di pikiran anak yang belum lama meninggalkan bangku SD itu. Maka sampai di rumah dia langsung heboh cerita kepada ibunya menceritakana kalau teman-temannya, beberapa orang, sudah punya pacar. Mawar bercerita kepada ibunya bukan karena pengen, tapi saking herannya. Mungkin itu yang disebut culture shock fase 1.

Sejak saat itu Mawar jadi punya ilmu baru. Pacaran. Ia pun mulai mengamati teman-temannya yang pacaran. Tidak ada yang menarik, masih terlalu kecil. Pikirnya waktu itu, ketika masih kecil (lebih kecil dari anak SMP maksudnya) kita selalu di bawah kontrol orang tua, trus nanti kalau sudah menikah, harus nurut sama suami. Makanya Mawar berniat tidak mau menyia-nyiakan masa mudanya mengikatkan diri pada siapa pun. Banyak hal lain yang lebih menarik yang ingin ia cicip. Hal-hal berbau 'kebebasan'..... Entah kebebasan apa yang dia maksud karena yang dia lakukan adalah main sepuasnya, gaya-gayaan naik motor ke sana kemari, dan mulai baca novel. Berawal dari 'serial cantik',

SMA

Mawar terlalu sibuk menikmati masa SMA nya bersama teman-teman. Main bareng, belajar bareng, makan bareng, ketawa bareng, berantem bareng, rapat sana rapat sini, liqo, ngaji di sana ngaji di sini, mabit sana mabit sini (tukang nginep maksudnya), ........ ah masa muda yang indah. Tanpa terasa masa 3 tahun pun hampir berlalu tanpa gejolak berarti.

Mulai Kuliah ++
Waktu kuliah pun Mawar masih sangat asyik dengan dunianya dengan teman-teman dan kesibukannya. Namun di awal kuliah ini ada satu makhluk yang entah mengapa kadang mengganggu mimpi indahnya. Awalnya ia tidak menyadari gangguan itu. Namun lama-lama ia mengenalinya, ternyata memang ada yang berbeda. Akhirnya ia berusaha menjaga (atau berusaha mengabaikan) rasa itu hingga kurang lebih 6 tahun lamanya terhitung sejak pertama ia bertemu dengan bayangan makhluk itu muncul hingga akhirnya ia menghilang dengan sendirinya karena suatu sebab.
Mawar bersyukur akhirnya merasa bebas dari bayangan itu. Untuk sementara Mawar bisa berkerja dengan tenang hingga ketenangan itu sampai pada titik bosan. Hingga bosan itu sudah bosan dengan bosannya sendiri sampai akhirnya Mawar menemukan gairah baru. Menjemput mimpi yang telah lama ia tunggu.

Kuliah Lagi
Setelah lepas dari bayangan itu bukannya makin terjaga tapi malah semakin jelalatan. Tempat kuliah yang baru sungguh terlalu banyak godaan mata. Dari Asia, Timur Tengah, sampai bule barat sekalipun nampak selalu saja ada yang terlalu indah untuk diabaikan. Sampai-sampai partner in crime Mawar berkali-kali menyebutnya "mata kranjang", "murahan", dan sejurus istilah hina lainnya yang kalau itu orang lain yang bilang (bukan teman dekat maksudnya) pasti langsung ditendangnya.
Mati-matian (lebay nih kata-katanya) Mawar berusaha mengontrol pandangan matanya. Tapi selaluuuu ada saja godaannya. Bagi Mawar terlalu banyak wajah-wajah artis bertebaran hingga rasanya kalau ketemu artis beneran bakalan susah bedain.

Hingga pada suatu hari, tepatnya pada malam sebelum ujian mid, mawar mengenal bocah besar itu. Iya bocah.. karena ia lebih muda dari Mawar. Awalnya karena kepentok butuh 'tentor' bantuin belajar bahan ujian, dengan mudahnya si Mawar jatuh simpati (belum sampai jatuh hati sih) pada si bocah tersebab kecerdasan dan 'keunikan'nya. Ya, si bocah ternyata cukup asyik bagi Mawar dan nampaknya Mawar pun sadar rasa itu mulai bertumbuh. Namun belum juga terjadi apa-apa, belum juga sempat dekat, si bocah harus sudah kembali ke negaranya, di belahan bumi benua biru sana. Baiklah... mungkin belum jodoh.

Dan Petualangan pun dimulai
Mawar pun kembali ke rutinitas membosankan nge-lab. Hingga pada suatu malam di lab, masuk jam makan malam, Mawar merasa lapar tapi malas masak. Jadi ya sudah lah, tetep aja nugas. Dan tetiba seorang lelaki tampan tetiba datang membawa makanan buatannya untuk Mawar icip. "Oh tidaaak... ini bukan manusia. Ini malaikat" (lebay). Sebenarnya lelaki itu teman Mawar juga sejak beberapa bulan lalu. Tapi mungkin karena moment dan feel nya lagi 'sesuatu' ya, jadi kejadian itu seolah menjadi tonggak awal petualangan cinta Mawar. Ya... petualangan cinta yang rata-rata orang mulai alami di masa SMA. Tidak seperti masa Mawar suka pada sesosok bayangan selama 6 tahun dulu yang datar-datar saja karena dari awal Mawar sudah tepis dan hindari, kali ini Mawar benar-benar merasakan sensasinya. Melambung, jatuh, bangun, jatuh lagi, bangun lagi, bergejolak lagi, jatuh lagi. Akhirnya Mawar lelah dan berkata "CUKUP. AKU LELAH". Tapi ternyata gelombang rasa itu masih terus menghampiri hingga Mawar pun lelah dengan "LELAH" itu sendiri. Akhirnya Mawar tak tahu harus bagaimana lagi. Akhirnya Mawar berjalan seperti zombi. Ada saatnya si zombi terbangun ketika ada yang menarik hati. Seperti saat ini ;) ... Uuuuw (si)apa itu????


(bersambung....)

Well, aku pun belum tahu apa yang akan terjadi pada Mawar. Masa depan memang misteri. Hanya Allah yang tahu. Mari kita doakan tokoh kita ini segera bertemu nasib baiknya ;)



    

Thursday, November 16, 2017

[Seri Romansa Mawar] - Candu Katanya

"Karena bersamamu adalah candu"
Itu adalah judul postingan di blog seorang mbakyu. Sepakat. Mawar merasa memang begitu. Bersamanya adalah candu. Mungkin. Mungkin. Mungkin begitu pun aku baginya, pikir Mawar. See! Betapa tidak sederhanannya pikiran wanita yang jatuh cinta. Perlakuan baik sekecil apa pun akan dia anggap sebagai perhatian lebih. Well, Mawar mengakuinya.

Baiklah, just for mentally satisfaction, biarkan Mawar bersama dengan imajinasinya dulu. Menurut pandangan mata Mawar -yang mungkin sedang tidak valid- memang dia juga menyukaiku. Apalagi seorang teman, Riya namanya, membocorkan hasil percakapannya dengan lelaki itu.

"Ibuku memintaku untuk segera menikah," katanya.

"Benarkah?" timpal Riya dengan sedikit senyum meremehkan, "tapi bagaimana kamu mau menikah sedangkan kamu sendiri belum bisa mengatur hidupmu sendiri? Memang kamu sudah siap menikah?"

"Belum. Hehe.... Makanya aku mau menikah dengan wanita sepertimu atau Mawar. Karena kalian itu mandiri dan teman yang baik. Kurasa saat ini aku lebih membutuhkan sosok teman..."

"Huh apa maksudmu? Kamu cari istri atau teman?" potong Riya.

"Ya istri yang bisa jadi teman....."

"Tapi kamu tidak bisa tidur dengan temanmu. Haha.." potong Riya lagi. Dan lelaki itu hanya bisa meringis.

Percakapan itu terhenti ketika Mawar tetiba datang. Saat itu Mawar tak tahu apa yang mereka bicarakan. Sebenarnya Mawar penasaran karena mereka secara tiba-tiba menghentikan pembicaraan ketika melihatnya. Tapi Mawar merasa mereka berdua tidak nyaman membagi cerita padanya, jadi ia tahan diri untuk bertanya. Baru beberapa hari kemudian Riya bercerita pada Mawar.

Tuesday, October 17, 2017

Aku pun Suka Ibunya

"Aku mau menikah dengan wanita yang cantik," katanya tanpa dosa pada dua teman wanitanya. Aku dan Tan. Sudah kesekian kalinya dia berkata seperti itu pada kami hingga tak jarang membuat kami kesal. Pernah suatu kali dia cerita tentang teman wanitanya ketika dia masih negara asalnya. Dia bilang mereka sangat dekat dan si teman wanita sering main ke rumahnya sampai-sampai orang tua dan saudara-saudaranya bertanya ada hubungan apa diantara mereka. Tapi dia jawab hanya teman meskipun ia mengaku sadar bahwa teman wanita itu suka dengannya. Kami yang mendengar ceritanya lantas bertanya, "Kalau kamu tahu dia menyukaimu dan kamu tidak, kenapa kamu biarkan dia dekat-dekat denganmu? Kan kasihan dianya."  Yang ditanya hanya mengendikkan bahu sok polos. "Lalu kenapa juga kamu tak suka dengannya?" tanyaku saat itu. "Well, dia ga cantik," kemudian dia menunjukkan foto wanita tersebut dan menyebutkan bagian-bagian wajahnya yang dia tidak suka dan membuat wanita itu tampak tak cantik di matanya. Dan kami hanya bisa geleng-geleng kepala dengan kawan kami satu ini. Menurut kami wanita itu cantik loh.

"Hhh.... sudah berapa kali kubilang padamu. Kecantikan fisik itu sifatnya sementara. Cepat atau lambat wanita cantik itu akan kehilangan kecantikannya. Setelah melahirkan bisa jadi dia menggelembung. Saat tua, kulitnya sudah keriput dan tak cantik lagi. Apalagi kau bilang kau tak suka wanita ber-makeup," omel Tan kesal. Aku memilih keep calm meskipun dalam hati kesel juga dengan lelaki macam ini.

"Tapi... ibuku tetap cantik meskipun sudah tua dan tanpa make up," sanggahnya dengan tetap pasang wajah tanpa dosa yang semakin membuat Tan semakin kesal.

"Ya karena itu ibumu!"

"Tapi ibuku benar-benar cantik..."

"Hhhh..."

Aku paham sebenarnya Tan kesal untukku karena ia tahu bahwa lelaki itu tahu aku ada rasa padanya tapi dengan tanpa dosa dia mengatakan seperti itu di hadapan kami. Menurut Tan, dia benar-benar tidak bisa menghargai perasaan seorang wanita. Well,  memang benar, sebagian dari rasa kesalku memang karena itu. Tapi kiranya masih dalam kadar normal sehingga masih bisa berpikir sehat.

"Ya, Tan. Aku setuju dengannya. Ibunya memang cantik," kataku kalem menengahi. Aku memang pernah beberapa kali bertemu dengan ibunya. Dia tidak berlebihan ketika ia mengatakan ibunya cantik. Gurat-gurat kecantikan dan anggunnya masih tampak jelas padanya yang sudah tak lagi muda. Sederhana, anggun tanpa polesan. Bibir tipisnya selalu tersenyum manis menghiasi wajahnya. Kulitnya pun putih segar dan sehat. Ia tidak terlalu tinggi, membuatnya menjadi tampak mungil dan membuat setiap orang melihatnya ingin melindunginya. Beliau nampak rapuh tapi kuat. Tak hanya fisiknya yang cantik, kepribadiannya pun, masyaaAllah. Sangat lembut dan penyayang. Kurasa setiap orang yang melihatnya akan jatuh cinta padanya. So sweet, warm and lovely. Sungguh. Kurasa hal ini menurun pada anaknya. Sama seperti ibunya, setiap orang yang pertama bertemu dengan lelaki itu pasti akan menyukainya. Tentu saja tak ada manusia yang sempurna. Begitu pula ibu dan anak itu.

Monday, October 16, 2017

Jadilah Temanku


“Kenapa kamu diam saja? Katakan sesuatu...”
”Katakan sesuatu. Aku ingin kau jadi temanku”
Aku tersenyum saja duduk kalem di kursi belakang ketika kau mengartikan setiap lirik lagu dari negaramu yang sedang kau putar di mobil. Ya, aku hanya tersenyum saja ketika kau menjelaskan maksud dari lagu orkestra yang tak banyak lirik itu karena itu bukan kali pertama kau menjelaskannya “padaku”. Entah mengapa aku merasa harus memberi penekanan pada kata “padaku”. Seolah-olah memang kau sangat menginginkanku sebagai temanmu. Tak kurang dan juga tak lebih. Kau tak ingin aku menjauhimu tapi tak juga terlalu dekat.

Kau tahu? Itu sungguh tak mudah pada awalnya. Tapi kuyakin kau tau aku sedang berjuang dan, somehow, kutahu kau pun berusaha membantuku hingga aku benar-benar bisa menempatkanmu sebagai teman. Tak lebih.