Saturday, January 3, 2026

Istri Low Maintenance

Entah waktu itu awalnya ngobrol, aku cuma inget bagian terakhir kalimat yang diucapkan sambil lalu pagi itu, "Enak kan punya istri low maintenance kayak aku." Itu beneran ga lagi nyindir atau habis berantem atau apa. Habis ngomong gitu aku langsung balik ke ruang kerjaku untuk WFH.
Waktu baru menyalakan laptop, tiba-tiba suami nongol dari belakang sambil bawakan teh sambil berkata "Sebenarnya emang iya sih."
Selama sepersekian detik aku sempat loading, "hah? Apa? Ngomongin apa ya ini?"
"Emang bener, kalau kamu istri low maintenance," katanya sambil senyum-senyum. 
Ok... aku dengan senang hati menerima itu sebagai pujian. Tapi aku penasaran juga POV dia tentang low maintenance yang dia maksud apakah sama dengan POVku.
"Tunggu dulu, bagian mana nih yang menurutmu aku low maintenance?"
Masih dengan senyum-senyum dia jawab, "Kayaknya ga ada orang lain yang bisa menerima ke-absurd-an ku kayak kamu. Kayaknya tidak semua istri santai aja dengan segala hobi dan kerandoman suaminya...." 
Di situ pecahlah tawaku, tapi aku cuma bilang "I see..." kemudian dia keluar dari ruang kerjaku dan aku pun kembali ke laptop.

Pernyataan dia itu singkat, tapi dalam bagiku. Aku bersyukur, setidaknya dia melihat dan menghargai usahaku dalam membangun cinta di rumah tangga kita. Dia tahu betapa ada banyak hal yang dia lakukan tapi aku tidak suka. Tapi dia melihat usahaku untuk memahaminya, memilih sikap dan bertutur kata.
Ada kalanya aku harus 'berargumen', ada kalanya aku hanya membiarkannya dalam dunianya. Dia memahami usahaku agar ketulusan cintaku tersampaikan dengan baik meskipun itu tak mudah. Tak mudah untuk bersikap dan berkata-kata yang tidak menyakitkan ketika kita sedang kecewa atau marah. Tapi dia melihatku berjuang.
Di sisi lain ada kesadaran diri, aku pun tak sempurna. Tidak semua orang memahami pola pikir dan pilihan hidupku. Tetiba teringat komentar seorang sahabat ketika melihat gaya hidup dan cara komunikasi kami,
"Argh.. you two have the same quirks 🙄."

Begitulah bagaimana kita bersinergi, selalu berusaha untuk terus belajar memahami satu sama lain dan menjadi pribadi yang lebih baik termasuk untuk pasangan, keluarga, dan lingkungan. 
Pada akhirnya, cinta memang bukanlah sekedar "hadiah" dari Sang Maha Kuasa, namun cinta adalah kata kerja yang harus diusahakan, dirawat dan dijaga.

Semoga Allah selalu melindungi kita dan keluarga 




Saturday, April 5, 2025

[Liburan] I - Balada Pesiar Perdana

Dua tahun yang lalu bapak mertua ngide trip kapal pesiar dengan mengundang semua anggota keluarga, yaitu istri, dua anak, dua menantu, dan dua cucu. Rencana awalnya untuk trip tahun 2024, tapi karena tahun itu anak sulungnya (suamiku) baru mulai kerja, agak ga enak kalau langsung ambil libur. Jadi tripnya diundur tahun 2025, tahun ini.
Hampir semua perencanaan hingga pembiayaan utama bapak mertua yang urus. Kami, anak-anak dan menantu, hanya ikut planning akhir mengenai kegiatan apa yang akan kita lakukan selama sepekan perjalanan, termasuk reservasi beberapa servis tambahan.

Dua Pertimbangan Utama
Tentu saja bapak mertua tidak mengurus semua detail perjalanan. Kebetulan sahabat adik ipar kerja di agen wisata. Jadi bapak mertua tek-tok-an dengan sahabat dari adik ipar itu untuk perencanaan dengan beberapa pertimbangan. Dalam perencanaan trip kali ini, ada dua pertimbangan utama, yaitu waktu dan tujuan.
Pertimbangan pertama: trip harus dilakukan sebelum keponakanku yang paling tua masuk sekolah September 2025 ini. Alasannya, kalau sudah masuk sekolah, tripnya harus mengikuti waktu libur sekolah, yang mana akan ada perubahan pembiayaan secara signifikan 😂.
Pertimbangan kedua: karena hanya aku satu-satunya yang berpaspor ijo, maka harus dipertimbangkan tempat-tempat yang aku tidak perlu visa tambahan 😂.
Dari kedua pertimbangan tersebut, akhirnya dipilihlah trip pada akhir Maret awal April 2025 ke Kepulauan Gran Canaria (Spanyol) dan Pulau Madeira (Portugal) yang masih anggota uni eropa.

Day 1

Friday, December 27, 2024

Pertemanan dan Masa Kadaluarsanya



"Hey, aku hari ini free. Mungkin kita bisa ketemuan lagi sebelum kamu balik?" Dengan semangat kukirimkan pesan itu ke seorang kawan yang jauh-jauh terbang dari Eropa ke Jepang untuk sidang S3. Sehari sebelumnya, tanpa sepengetahuan dia, aku datang sidang disertasinya berharap kedatanganku memberi sedikit support mental. Dan benar saja, hanya aku dan seorang labmate yang datang ke sidangnya. Usai sidang, kuajak dia makan siang dan karaoke sebentar sebelum dia kembali ke hotel. 
"Kalau kamu ada waktu, besok ketemuan lagi yuk sebelum kamu ke Tokyo," kataku sebelum kami berpisah.

Berjam-jam berlalu hingga matahari mulai kembali ke peraduan tak kunjung aku mendapatkan balasannya. Hari pun berganti hingga bertahun kemudian tak ada lagi satu pun pesan darinya kuterima dan aku sudah berdamai dengan kenyataan bahwa mungkin masa pertemenan kita memang sudah benar-benar kadaluarsa.

Ya, kupikir kadaluarsa adalah kata yang paling representatif. Pernah gak sih kamu merasa "tidak cocok" lagi dengan teman yang dulu sempat menjadi teman terbaik bahkan? Beberapa hubungan pertemanan pecah karena memang ada masalah atau sekedar perbedaan visi/pendapat, namun ada pula yang tanpa masalah dan tiba-tiba hambar kemudian kamu sadar dia atau kawanmu menarik diri dari satu yang lain.

Sunday, October 13, 2024

Permohonan visa Schengen untuk kunjungan Orang Tua ke Jerman


Kali ini aku akan berbagi cerita termasuk tips & trik apply visa schengen melalui kedutaan Jerman berdasarkan pengalaman kami.
FYI, posisiku dan suami (WNJ) tinggal & sama-sama bekerja di Jerman. Kami berencana mengundang orang tua untuk mengunjungi kami selama 3 pekan saja. 
Semua persiapan dan pengurusan visa kami urus sendiri. Memang lebih banyak effort apalagi setelah rame-rame kasus yang diduga 'perdagangan manusia' beberapa waktu lalu, persyaratan apply visa semakin diperketat. 
Kalau kalian tidak banyak waktu dan males ribet, paling enak memang pakai jasa agen untuk persiapan dokumen karena memang ada beberapa 'trik' yang kita harus hati-hati dan teliti, misal dalam pembuatan cover letter. 'Orang agen' biasanya lebih berpengalaman membuat cover letter yang meyakinkan dan tidak ambigu. Nanti aku cerita lebih lanjut soal cover letter beberapa tips dari pengalaman kami.
Begitu juga dengan kelengkapan dokumen. 

Berikut ini langkah-langkah yang kami lakukan untuk apply visa schengen untuk kunjungan orang tua ke Jerman.

Saturday, April 27, 2024

Mudahkan jangan Dipersulit

Baru saja membaca sebuah tulisan singkat di Facebook yang dibagikan oleh seorang sahabat. Tulisan itu menceritakan seorang habib yang berdakwah di sebuah desa di Afrika. Seorang kepala desa mengatakan mau masuk Islam tapi tidak mau salat. Tanpa mempersulit, Sang Habib pun membimbing Sang Kepala suku bersyahadat. Saat Eid, Sang Habib mengajak Kepala Suku untuk salat Eid karena ringan, hanya dua rakaat. Kemudian pada Hari Jumat, Sang Kepala Suku mulai diajak lagi, karena sama ringannya dengan salat Eid, hanya dua rakaat. Kemudian Sang Kepala Suku mulai menambah salat mulai dari Magrib dan terus menambah ibadah tanpa ada paksaan.

Entah bagaimana kebenaran cerita tersebut, aku mendapatinya masuk akal dan setuju dengan pesan yang disampaikan untuk tidak mempersulit orang masuk Islam dan mendapatkan hidayah. Kita manusia biasa yang tidak memiliki hak untuk menghakimi status spiritual seseorang. Apalagi dalam hal ini sangat mudah kita merasa mendapat hidayah lebih dulu kemudian merasa cukup 'senior' untuk mengajari tentang agama kepada mualaf atau orang yang baru 'hijrah'.

Bagiku, cerita itu memberi kesan yang lebih karena tepat seperti pengalaman pribadi. Aku dan suami adalah teman baik sebelum kami mulai ada rasa dan memutuskan untuk menikah. Saat itu, suami seperti pada umumnya pemuda Eropa masa kini, agama bukan lagi untuk diimani dan menikah hanyalah masalah administrasi dan keuntungan pajak. Sedangkan aku, dari kecil dibesarkan di lingkungan yang beragama dan sangat mensakralkan konstitusi pernikahan.  Sehingga jelas dari awal kami tak ada niatan untuk hubungan yang lebih dari teman.

Tuesday, March 28, 2023

Terima Kasih

Delapan tahun lalu
Di bawah naungan langit biru
Sakura mankai menyambut 
Merayakan delapan tahun 
Mimpi-mimpi yang menunggu
Menoreh kisah-kisah baru

Di negri sakura
Tempat jiwa muda itu bertumbuh dan mengelana
Merasa suka dan duka
Tempat hati hati pernah bersua
Namun pernah juga terluka

Luka yang menempa menguatkan
Jiwa-jiwa baru mengisi kehampaan
Menebar warna-warni kehidupan
Sungguh nikmat tuhanmu yang mana kah
yang kamu dustakan?

Terima kasihku untukmu
Jiwa-jiwa pengisi relung hidupku
Di negri yang kusebut rumah keduaku
Doaku bersamamu
Rahmat Allah selalu menyertaimu
Wahai sahabat-sahabatku

Sakura mankai
Kecantikannya mengikat hati
Kali ini mengantarku pergi
Menuju belahan jiwa yang t'lah menanti
Kuharap ku kan kembali
Suatu saat nanti
Jika Allah menghendaki


--
Pada suatu semi
Shofi





Friday, August 26, 2022

Umroh Patah Hati (Part 1)


Prolog

Sebut saja namanya Mawar, gadis berusia 26 tahun yang bercita-cita nikah muda yang tak kunjung menemukan/ditemukan tambatan hatinya. Sejak SMA Mawar sudah aktiv di organisasi keislaman dan sudah sangat 'teracuni' dengan konsep nikah muda. Salah satu model yang menjadi salah satu motivasi terbesarnya adalah ibu sahabatnya. Ibu dari sahabat Mawar ini menikah di usia 21 dan miliki 5 orang anak. Kita sebut saja ibu Dewi. Di mata Mawar, ibu Dewi adalah sosok bidadari dalam bentuk manusia dan idaman semua anak seumuran Mawar. Pada saat itu, belum populer ilmu-ilmu parenting masa kini yang mengharamkan tindak 'kekerasan' verbal, visual, maupun mental. Tentu saja Mawar sangat mencintai ibunya, tapi semakin sering Mawar menginap di rumah sahabatnya dan melihat bagaimana ibu Dewi bersikap dan mendidik anak-anaknya, tak ayal membuat Mawar terkadang membandingkan bagaimana ibunya bersikap kepadanya dan adik-adiknya.

Tapi kita tidak akan membicarakan soal bagaimana ibu-ibu itu mendidik anak-anaknya. Intinya, semakin mengamati ibu Dewi, diam-diam Mawar mengidolakannya dan ingin mengikuti jejaknya untuk menikah di usia muda. Tentu saja wacana nikah muda juga didukung dengan lingkaran pertemanan dan kegiatannya yang memang membuat Mawar tak tertarik untuk menjalin hubungan asmara atau sekedar hubungan yang melibatkan rasa. Idealismenya kukuh, tidak ada pacaran (apa pun bentuknya) sebelum menikah, perlahan tapi pasti membentuk benteng kokoh di hati yang tampaknya tak tertembus. 

Wednesday, August 3, 2022

Menuju Tahun Ketiga

Salzburg, 2022

"Why are you crying?" tanyanya panik melihat air mataku yang meleleh begitu saja.

Aku membiarkannya memelukku untuk menenangkanku yang semakin sesenggukan. Meskipun panik, ia sabar tak memberondong pertanyaan alih-alih menungguku menjawab setelah tenang. Salju di luar pun nampaknya sehati dengannya, seolah menanti jawabku.

Kubalas pelukannya sesaat kemudian. "I am very grateful for what Allah has given to me. You ... are more than what I want and need. You are the answer to my prayers. Only that Allah gave me more than what I have ever expected," kataku akhirnya. "And I couldn't hold my tears ... because of happiness and gratefulness."

Salju di luar mulai turun seiring dengan semakin erat pelukannya menambah syahdu malam itu. Baru satu pekan usia pernikahan kami saat itu. Pernikahan yang kami putuskan dalam sekejap mata seolah tanpa pikir panjang. Meskipun hampir satu tahun kenal dan berteman, tak ada kisah romantis sebelumnya hingga ia beranikan melamar langsung ke bapak, sekitar sepekan sebelum tiba-tiba menikah. Lamaran cowboy yang harus kuterjemahkan sendiri dari seorang 'kawan' dengan kaos oblong dan celana pendek kepada wali atas hidupku saat itu, sang bapak. 

Banyak percakapan, diskusi, dan curahan hati selama kami berkawan yang akhirnya mengarah ke perbincangan serius tentang kemungkinan mengarungi masa depan bersama. Seperti umumnya orang barat yang tidak betul-betul meyakini agama, awalnya pernikahan bukan menjadi prioritas hidupnya.  Sementara itu aku yang memilih nilai-nilai Islam sebagai pedoman hidup, memandang pernikahan adalah salah satu tujuan hidup (kalau bisa).  Meskipun tak menisbatkan diri pada aturan agama tertentu, ada nilai-nilai yang dia pegang dalam hidup diantaranya menjadi manusia yang bermanfaat dan tidak merugikan manusia lain maupun lingkungan. Prinsip hidup yang pada dasarnya sejalan pula dengan nilai-nilai Islam yang kupegang. Namun, memilih Islam berarti memilih untuk taat dengan aturan yang ditetapkan Allah sesuai Al-Qur'an dan sunnah. 

Sunday, January 2, 2022

Wahai Jarak, Enyahlah!

Long distance marriage atau lazim disingkat LDM adalah istilah untuk mendeskripsikan pasangan suami istri yang tidak tinggal bersama karena jarak fisik yang memisahkan. Ada pasangan yang melakukan LDM karena pilihan, misalnya akibat pekerjaan, dan ada juga yang terpaksa karena keadaan, misalnya akibat pandemi.

Keputusan LDM itu sendiri sudah bukan opsi ideal dan menyenangkan untuk pasangan yang sudah menikah apalagi bagi yang harus melakukannya karena terpaksa. Hal ini dapat memicu stress dan ketidakstabilan kesehatan mental. Belum lagi dengan ketidakbebasan berperjalanan karena pandemi menimbulkan perasaan terpenjara di udara terbuka. Pertanyaan “kapan bisa bertemu?” yang secara konstan terngiang seolah menjadi mimpi buruk karena tak ada jawaban pasti.

Namun, things happen with a reason. Selalu ada pelajaran yang bisa diambil dari setiap kejadian. Sebagai pengantin yang baru beberapa bulan menikah kemudian terpaksa harus dipisahkan oleh jarak karena pandemi, ada setidaknya tiga pelajaran penting yang dapat saya ambil.

Friday, December 31, 2021

Melamar Diri Sendiri

Di ruang tamu siang itu kami terbagi ke dalam tiga kubu. Di kubu kanan, duduk Dwi, salah satu adik lelakiku, yang malah terkikik geli ketika kulirik dengan tatapan ganas. Di sampingnya tampak Rez, adik lelakiku yang lain, senyum-senyum menanti apa yang akan terjadi beberapa menit ke depan. Mei, istri Rez, yang meskipun sedang sibuk bermain dengan putrinya pun berusaha untuk tidak ketinggalan momen.

Sssttt … heh,” sergah Ibu menyuruh Dwi berhenti terkikik. Dwi masih berusaha menahan tawa melihatku mencoba menutupi sikap malu-malu dan salah tingkah yang mungkin terlalu jelas untuk disembunyikan. Ibu dan Bapak yang duduk di kubu kiri makin tak sabar menunggu apa yang akan disampaikan si kubu tengah, aku dan lelaki yang duduk di sebelah kiriku. “Wis … gek ndang ngomong,” kata Bapak menyilakan kami berbicara setelah semua tampak siap mendengarkan.

Segera kualihkan pandang kepada lelaki yang dari tadi diam tak mengerti sepatah kata pun dari yang dibicarakan anggota keluargaku. Kuanggukkan kepala sebagai kode bahwa dia sudah dipersilakan berbicara oleh si tuan rumah yang dibalas dengan anggukan juga olehnya. Selama sepersekian detik rasanya aku ingin tertawa melihat wajahnya yang lebih pucat dari biasanya karena nervous. Untunglah aku cepat menahan diri dengan berempati jika aku di posisinya mungkin aku juga panik. Akhirnya suasana ruang tamu menjadi sunyi senyap, bahkan keponakanku yang tadi sibuk bernyanyi sendiri tiba-tiba diam.

Thursday, December 30, 2021

Past Life

Sometimes I am missing my past life.
The life when I always have somebody with me. Friends.
The life when the word "love" was applied for everything.

Accepting someone or struggling with somebody?
Tired.
Tired to catch somebody's love and attention,
but not ready to accept somebody who is far from mind.

Sometimes I am missing myself in the past time.
When I used to don't care about such a feeling.
When I used to do whatever I like.
Selfish!
Maybe.

Akhirnya hanya kuikuti kata hati
Mengalir entah kemana ku pun tak tahu
Kuserahkan semua kepada Sang Pemilik Hati
Meski kadang terselip rasa ragu
Ragu akan kemampuan diri tuk memahami
Tersebab dosa menumpuk di hati

                                                                                                                        (Sometimes in 2018 or 2019)

Tuesday, July 6, 2021

Yang-Tak-Dinanti yang Selalu Menanti

 

Dua pekan yang lalu Dwi tiba-tiba mengirimkan pesan langsung di instagram. Dwi yang jarang mengakses instagram, qadaruallah, saat itu iseng membukanya dan langsung menemukan storyku di list pertama. Padahal sudah jarang juga aku posting posting di instagram. 


Pi, wis krungu kabar suamine Mbak Rima?” Sudah dengar kabar dari suaminya Mbak Rima?


Alih-alih langsung membalas pesan di instagram, segera kuhubungi Dwi dari nomor WhatsApp baruku yang memang tak banyak orang tahu. 


“Wi, soko kene wae. Iki nomerku sing anyar.” Lewat sini aja. Ini nomor baruku.


“Saiki selo ra? Telponan wae iso?” Sekarang luang tidak? Telepon saja bisa? 


Selain pensaran dengan berita yang akan disampaikan Dwi, sudah lama juga aku tidak kontak dengan kawan-kawan lamaku termasuk  Dwi dan mbak Rima. Dulu saat kuliah kami tinggal bersama, belajar bersama, berkegiatan yang sama. Namun setelah lulus kuliah, kami menjalani nasib hidup kita masing-masing, sibuk dengan dunia dan lingkaran pertemanan baru lengkap dengan tantangannya masing-masing.


“Iso, Pi” Bisa.


Di telepon, Dwi menyampaikan kabar duka tentang suami Mbak Rima.

Monday, July 5, 2021

[Album Patah Hati] - Malu

Malu,
Ketika yang lain sudah berpikir untuk orang lain
Ketika yang lain sudah berkarya untuk umat
Ketika yang lain sudah berpikir untuk solusi negaranya
agamanya, keluarganya
Aku masih saja menggalaukan hal tidak seharusnya

Malu,
Diriku yang dulu membanggakan benteng hati
Yang kubangun sepenuh hati
Untuk melindungi sang hati
Sudah bertahun-tahun lamanya benteng itu tegak bediri
Congkaknya hati meras bersih sendiri
Hingga tak sadar hingga benteng itu retak terikikis
Sedikit demi sedikit membentuk lubang
Semakin banyak lubang
Hingga akhirnya runtuh
 
Lelaki itu,
Sukses membuatku pikiranku teralihkan
Entah sampai kapan, Ya Allah
Hanya Engkau yang tahu

Ya Allah,
Aku malu pada-Mu
Aku malu pada diriku sendiri yang dulu
Begitu banyak waktu terbuang menunggu,
menunggu sesuatu yang ku pun tak tahu
Sesuatu yang tak akan mengganggu
bagi aku yang dulu

Sunday, July 4, 2021

Terlalu!

Kata terlalu adalah salah satu kata hiperbola. Sesuatu yang berlebihan memang tidak baik.
Beberapa waktu lalu aku sibuk menyalahkan seseorang. Rasanya semua letak kesalahan ada padanya sampai-sampai tak ada ramah dan senyum tersisa untuknya. Dongkol? tentu. Apalagi jika yang disalahkan merasa tidak bersalah. Meski tak ada lagi senyum untuknya, dia tetap tidak peduli. Ya, kehilangan satu senyum bukan berati ia kehilangan senyum yang lain. Betul.

Kemudian pada eposide berikutnya, instrospeksi diri perlu benar-benar dicermati. Apakah betul ini salah orang lain. Setelah dicermati akar masalahnya, ia bersumber dari diri sendiri. Sungguh terlalu! Kecewa. Penyebabnya mudah dideteksi, karena terlalu berharap. Kalau dia baik dan membuatmu merasa spesial, ya itu memang karena dia baik dan bisa melakukannya ke siapa saja. Itu hak nya. Kamu lah yang tak bisa membentengi dirimu sendiri. Kau sendiri yang menceburkan diri ke dalam kubangan itu. Kubangan yang selama ini kau hindari, tapi dengan sadar kau masuki.

Kata seorang teman, hati-hati dengan tipuan rasa. Tipuan rasa itu yang menghilangkan akal melemahkan pikiran meruntuhkan pertahanan. Hati-hati dengan rasa itu, kawan.

Ketika Ideologimu Diuji - Being Superficial



"Nganggo klambi bebas opo wae sing penting kowe nyaman."  Pakai baju apa saja bebas asal kamu nyaman. 

"Nek nyandang sak mampune. Ra perlu nyandang larang-larang mung pengen ketok WAH." Bepernampilanlah sesuai kemampuan. Tidak perlu berpenampilan mahal hanya untuk tampil WAH.

Kurang lebih itu doktrin ibuku sehingga menjelmalah diri menjadi manusia yang tak ngeh tentang mode. Penampilan selalu asal. Yang penting nyaman. Saking nyamanya, tidak pernah terbesit untuk memahami estetika dalam berpakaian. Sering dibilang juga oleh kawan-kawan untuk lebih sedikit memperhatikan penampilan. Tapi, mana kudengar.... Sebaliknya, aku sangat bangga dengan ke-whatever-an ku malah merasa kasihan dengan mereka-mereka yang terlalu rempong dengan penampilannya. Aku harap semua wanita juga fokus dengan aktualisasi diri lainnya. Di sisi lain, aku sengaja berpenampilan sangat apa adanya karena diantaranya aku ingin menyeleksi calon suami. hahaha.... Selain karena memang malas dandan dan pusing dengan penampilan, aku ingin calon suamiku kelak memilihku pertama-tama bukan karena penampilan fisik.

Singkatnya, I was happily living in my ideology. Namun, seiring bertambahnya umur, ada masanya ideologi diuji. Dalam hal ini, ketika aku di Jepang. Sedikit demi sedikit pandanganku mulai berubah karena aku di lingkungan yang sama sekali berubah. Di Indonesia, aku merasa, saat itu, banyak orang yang berpandangan sama denganku, bahwa bersih dan rapi saja cukup. Tapi sejak di Jepang aku menyadari value yang baru dalam berpenampilan. Keindahan.

Saturday, February 6, 2021

[15 Days in Quarantine] Part II - OK, I like It Now

 

Quarantine Day #7


I start to enjoy my quarantine. My biological clock seems to work normally now. YAY! Alhamdulillah. and…. I watched many youtube videos. heheh


  1. Make quarantine diary. At least one sentence
  2. Exercise for at least 5 minutes. I will ask (force) my husband to do it with me.
  3. Make progress for the paper (target: the first draft will be finished within this quarantine time)
  4. Continue reading a book at least one chapter (target: at least finish “The journey into the interior of the earth”)
  5. (Re)memorize of Quran: 1 day 1 surah (1 ayah for new surah) 🆗ish
  6. Play an easy game with my husband (only if he’s available)
  7. German vocabulary

Quarantine Day #8


I miss my husband 😐

  1. Make quarantine diary. At least one sentence (I did it alone)
  2. Exercise for at least 5 minutes. I will ask (force) my husband to do it with me.
  3. Make progress for the paper (target: the first draft will be finished within this quarantine time)
  4. Continue reading a book at least one chapter (target: at least finish “The journey into the interior of the earth”)
  5. (Re)memorize of Quran: 1 day 1 surah (1 ayah for new surah)
  6. Play an easy game with my husband (only if he’s available)
  7. German vocabulary

Quarantine Day #9


Counting the day!!! Lazy day!!! (Well, every day is a lazy day :(

[15 Days in Quarantine] Part I - I'm Gonna Get Crazy!!

 

Quarantine Day #1


I finally made it to the apartment in the evening. Unpacked stuff and emptied the luggage because apparently one of my oatmeal packs broken so need to be cleaned. Ate my first instant noodle, had a call with my parents, prayed, having a call with my husband, ate my second instant noodle, continue cleaning up and put back some snacks to the luggage, then tried to sleep. 


I felt tired since I arrived so I thought it would be easy to fall asleep. 

But seems the jetlag is REAL! I kept waking up every hour and finally, I completely wake up at midnight.

I then decided to call my husband (again) for company. But we couldn’t talk long. So, I pray tahajjud and tried to sleep again afterward. But failed.

So, I tried to find something to do. Of course, I still have works to do but my brain is still not ready for such work. Instead, I contacted booking.com to extend my stay because currently my booking is only for 14 nights, not 14 days and I couldn’t do the extension myself. Apparently, I’ll have to wait for a confirmation from the owner. OK. Let’s see tomorrow.


It’s still the first day of 14 days with not seeing any human, not even go outside, so (I bet) it means no sun too.

But I am already bored. I begin to doubt my sanity will remain stable if I don’t make a clear what-to-do plan. So, let’s make target plan for this 14 days quarantine!


  1. Make quarantine diary. At least one sentence 
  2. Exercise for at least 5 minutes. I will ask (force) my husband to do it with me.
  3. Make progress for the paper (target: the first draft will be finished within this quarantine time)
  4. Continue reading a book at least one chapter (target: at least finish “The journey into the interior of the earth”)
  5. (Re)memorize of Quran: 1 day 1 surah (1 ayah for new surah)
  6. Play an easy game with my husband (only if he’s available)

Quarantine Day #2

Friday, December 18, 2020

[Cerita dan Tarian] V - It just Feels Right

(cerita sebelumnya [Cerita dan Tarian] IV)


Sesekali kulirik lelaki di sebelahku ini. Bukan pertama kalinya aku bepergian jauh dengan seorang lelaki baik untuk perjalanan profesional atau sekedar liburan. Namun kali ini rasanya berbeda, apalagi setelah ia menjawab pertanyaan pertama tadi. Aku merasa ada harapan dan selangkah lebih maju. 

Petang keesokan harinya, kami sudah mendarat di terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Udara hangat menyambut begitu kami keluar dari pesawat. Kelembaban tropis begitu setelah beberapa jam lalu masih dalam aroma musim dingin. Tapi itu tak jadi soal. Daripada memikirkan cuaca, aku lebih sibuk dengan pikiranku karena dua hari lagi adalah hari pernikahan sepupuku, alasan utamaku pulang. Itu artinya kami akan bertemu dengan keluarga besar.

Aku yang mungkin kelihatan 'alim' di mata keluarga, untuk pertama kalinya aku membawa 'teman' dalam acara yang melibatkan keluarga besar. Orang asing lagi. Laki-laki lagi. Entahlah, aku benar-benar tidak bisa membayangkan apa reaksi dan komentar keluarga besarku. Huft, semoga tidak ada yang merasa canggung, harapku. Dan syukurlah, sepupu-sepupuku yang rata-rata lebih tua dariku sangat ramah dan membuat kita semua merasa nyaman. Dia pun nampak tak canggung meski jadi jauh lebih pendiam dari biasanya. Aku merasa tak hentinya tersenyum melihat diamnya mengamati lingkungan. Menurut pengakuannya, ini adalah belahan bumi paling selatan yang pernah ia sambangi. Belahan bumi di selatan khatulistiwa. I totally can relate. Aku sangat paham karena aku pun begitu ketika pertama kali menginjakkan kaki di Jepang. Otakku sibuk mencerna hal baru. Ada beberapa hal yang di Indonesia adalah common sense ternyata tidak di Jepang. 

"Seberapa sering kalian mengalami hujan zenith?" tanyanya waktu itu dalam perjalanan dari bandara menuju rumah salah satu sepupuku. 

"Hah? hujan apa?" tanyaku balik tak paham maksud pertanyaannya. Sepupuku, Mbak Ayu, yang menjemput kami di bandara pun tak kalah bingung. 

Dia pun berusaha menjelaskan diskripsi hujan yang dimaksud yaitu hujan yang terjadi akibat pertemuan dua angin pasat yang membentuk gumpalan naik ke atas awan karena pemanasan yang akhirnya menyebabkan awan menjadi menjadi menggumpal, kemudian mengalami titik jenuh, dan akhirnya hujan. 

"Ya emang gitu kan yang namanya hujan?" aku masih gagal paham kenapa dia tanya hal yang sudah jelas. Butuh beberapa waktu dan sedikit diskusi sengit untuk hanya membahas tentang hujan sampai akhirnya aku ingat memang ada beberapa jenis hujan. Aku tidak ingat pelajaran geografi yang entah sudah berapa abad yang lalu tentang macam-macam hujan karena di Indonesia kita paling sering mengalami satu macam hujan saja, hujan tropis. Hujan yang membuat kita basah kuyup seketika. Tapi ketika aku di Jepang, kadang aku merasa hujan di Jepang aneh. Kadang hujannya "bercanda" doang karena tidak membuat basah kuyup tapi cukup nampak terlalu lebat untuk disebut hujan rintik-rintik. Bukan aku saja orang Indonesia yang pernah mengomentari kalau hujan di Jepang ini ga bikin basah. Mbak Ayu pun yang pernah mengunjungiku di Jepang mengomentari hal yang sama. 

Barulah aku sadar ini salah satu common sense gap di antara kita. "Oh I see... ya maaf, kita lupa ada macam-macam hujan. Di Indonesia ya seperti ini hujannya. Bulirnya besar-besar langsung bikin basah," jawabku akhirnya menutup bahasan tentang hujan.

Wednesday, November 25, 2020

Rasa yang Tak Sama

Saat itu umurku 20 tahun ketika salah sahabatku menikah. Setelah menikah dia berubaha total, bahkan tidak meneruskan kuliahnya. Aku sempat marah dan tidak terima, tapi aku bisa memahami keadaaannya waktu itu karena, pertama, dari awal dia memang tidak suka jurusan kuliahnya, dan yang kedua, memang suaminya berbeda pemikiran tentang cara pandang sebagian besar dari kita saat itu. Ah agak susah menjelaskannya, intinya aku tidak kaget ini akan terjadi.

Tapi, ketika sahabat keduaku menikah tahun berikutnya, aku benar-benar tidak bisa menerima perubahan dia saat itu. Tentu saja aku sangat bahagia atas pernikahannya dan rela menempuh perjalanan jauh untuk menghadiri pernikahannya. Berbeda dengan sahabat sebelumnya, yang kedua ini aku tidak menyangka perubahannya akan se-signifikan itu. Ada beberapa perubahan sikap yang aku tidak bisa terima saat itu sehingga dia benar-benar menangis karena tak tahu harus bagaimana. Tapi akhirnya aku sadar, biar bagaimana pun, prioritas sahabatku itu sudah bergeser. Rasanya pertemanan kita beberapa tahun ini tak ada pengaruhnya sama sekali. Sejak kejadian (pertengkaran) kita waktu itu, meskipun tidak diucapkan dengan kata-kata, aku mundur teratur menarik diri dari kehidupannya dan (waktu itu) sepertinya dia tidak begitu peduli. Ah sudahlah...

Friday, November 13, 2020

Dear My Brothers

Thank you for trusting me.
Thank you for sharing your feeling,
your thinking,
your idea.
Thank you for calling me,
asking for my comments and suggestion.
It really means to me. 
I feel like I can do my job as your sister,
to be your friend that you can talk to.

I know that I wasn't a good sister for you
I was too selfish
I was too judgemental
I was too arrogant
to just listen to and understand you.
I am also in the progress to be the better of me
and I am sure you also see me growing,
to be a better person.

I mostly have a busy time,
if you know me, indeed I always try to be busy.
But for you, 
I always try to make time.
Because busy or not is a matter of priority.