Friday, February 9, 2018

Omong Kosong tentang Harga Diri *coret*Lelaki*coret*

"Jangan bantu aku. Aku bisa sendiri. Aku tidak sebodoh itu."

Terkejut kami mendapat pesan dari salah satu teman kita. Tak berapa lama kemudian dia mulai mengetik pesan yang tak kalah mengejutkan. Dia menyebutkan kembali kalimat yang muasalnya hanyalah guyonan dan tak ada niatan sama sekali. Mungkin kami kurang mengenal baik karakter teman kami itu. Aku bahkan menangis dibuatnya. Sungguh aku tak habis pikir kok bisa-bisanya dia berpikir begitu. Kalau aku adalah Cinta, sudah kukatan pada Rangga bahwa "Yang kamu lakukan ke aku itu... jahat".

Tapi kucoba mengerti dan memahami. Saat sedang sesenggukan sendiri, masuklah sebuah pesan dari teman,

"Biarkan dulu dia sendiri. Sepertinya sekarang dia sedang memikirkan harga dirinya yang terkoyak. Membantunya hanya akan menodai harga dirinya. Lebih dari itu, ia adalah seorang lelaki."

)*&*&^!!!!!!!
Sebenanya pesan serupa sudah disampaikan oleh teman yang lain. Tapi waktu itu yang menyampaikan perempuan, kali ini teman laki-laki. Dalam hal ini mungkin dia lebih memahami perihal harga-diri-yang-terkoyak ini. Tak mau berdebat, pesan itu hanya kujawab,

"Got it." Oke! Fine. Jadi duduk permasalahannya adalah tentang harga diri. Baiklah.

Tapi kalau boleh jujur, aku punya pendapat tentang harga diri. Wahai para penggila harga diri, kalau kau percaya Allah, kupikir kalian pun tahu sebenarnya Allah lah yang Maha tahu baik dan buruknya kita. Tidak ada manusia yang sempurna. Setiap orang pasti punya aib. Orang yang terkenal baik dan sangat dicintai dan dihormati orang banyak, itu karena Allah MENUTUP AIB dia. Kalau Allah sudah berkendak membuka aibnya, apa daya orang itu?

Perlakuan orang terhadap diri kita, bisa jadi itu lah cerminan atas akhlaq kita. Tentu kita punya kewajiban menutup aib kita dan orang lain. Tapi apa daya jika ternyata aib kita tebongkar lewat orang lain. Marah? Lalu merasa harga diri kita ternodai? Hello....tunggu dulu!!! Lihat dengan mata hati dan pikiran jenih. Kalau ternyata yang dikatakan orang lain tentang keburukan kita itu benar, mungkin itu cara Allah memperingatkan kita. Kalau lah itu tidak benar, ya sudah, cukup klarifikasi tanpa emosi. Kalau klarifikasi tidak menyelesaikan masalah, ya sudah, abaikan. Untuk apa buang-buang waktu untuk hal yang kau tau tidak benar. Jadi tak ada gunanya juga sibuk marah-marah tentang harga-diri-yang-ternoda. Entahlah, bagi seorang lelaki mungkin it's big deal. Tapi apa salahnya berpikir logis seperti ini.

Oke, mungkin sebagai wanita, aku pun tak berhak maksa-maksa lelaki untuk berpikir logis tentang 'harga-diri'nya karena kami pun lebih jauh dari dunia logika, kami lebih perasa. Dan kadang gara-gara rasa ini, mungkin membuat para pria ternoda harga dirinya.

Baiklah, untuk lebih adilnya, mari sama-sama belajar dan terus memperbaiki diri.

Allah lah yang Maha Mengatur. 

Monday, December 11, 2017

Masa Depan

Masa depan adalah misteri. Terkadang kita stuck, berhenti dan 'mati' karena terlalu takut melangkah.
Terlalu takut akan apa yang akan terjadi di depan. Terlalu gelap hingga tak sanggup dilihat. Banyak cabang jalan yang membentang. Beberapa diantaranya tampak ada cahaya samar. Namun, siapa yang bisa menjamin cahaya itu semakin terang dan tak akan pernah padam? Siapa yang menjamin ketika kau ambil jalan itu tak akan kau temui cabang-cabang jalan lain yang mungkin semuanya gelap?

Buntu. Adakah jalan buntu?
Apakah jalan buntu akan terbuka dengan menggerutu?
Sungguh mencintai seseorang itu menguras energi
baik fisik maupun pikiran. 
Jiwa atau raga

Duhai Allah..... hanya engkaulah yang Maha tahu jalan mana yang selamat untukku
Hanya engkaulah yang tahu ke mana kah hati ini akan kau labuhkan
Hanya engkau lah yang tahu masa depan

Bimbing kami, Ya Rabb....
Tuntun kami....

T_____T

Sunday, November 26, 2017

Setajam lidahmu

But prophet mohamad said صلى الله عليه وسلم: من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت. رواه البخاري ومسلم

Pesan balasan itu sampai juga di layar hpku. "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, katakan yang baik atau diam."

You do the first, but sometimes you forget to apply the rest of hadith

Kamu lakukan yang pertama, tapi kadang kamu lupa menerapkan sisa hadits itu. Jleb. Rasanya dia memang benar-benar marah karena mungkin karena menurutnya bercandaku keterlaluan dan setelah make fun of him, aku malah mengingatkan kesalahannya. Akhirnya melayanglah hadith itu.

Beragam jawaban sudah siap kuketik. Pada awalnya berupa pembelaan diri, tapi buru-buru kuhapus lagi. Poinnya bukan itu, Fi. Tegur sang hati pada diri ini. Yang dia katakan benar. Itu yang ingin disampaikannya setiap kali kau berusaha menegur seseorang.  Akhirnya sebaris permintaan maaf lah sebagai balasanku. Setelah itu aku berusaha introspeksi diri dan muncul beberapa pertanyaan untuk diri sendiri.

Thursday, November 16, 2017

[Seri Romansa Mawar] - Candu Katanya

"Karena bersamamu adalah candu"
Itu adalah judul postingan di blog seorang mbakyu. Sepakat. Kurasa memang begitu. Bersamanya adalah candu. Mungkin. Mungkin. Mungkin begitu pun aku baginya. See! Betapa tidak sederhanannya pikiran wanita yang jatuh cinta. Perlakuan baik sekecil apa pun akan dia anggap sebagai perhatian lebih. Well, aku mengakuinya.

Baiklah, just for mentally satisfaction, biarkan aku bersama dengan imajinasiku dulu. Menurut pandangan mataku-yang mungkin sedang tidak valid- memang dia juga menyukaiku. Apalagi seorang teman, Riya namanya, membocorkan hasil percakapannya dengan lelaki itu.

"Ibuku memintaku untuk segera menikah," katanya.

"Benarkah?" timpal Riya dengan sedikit senyum meremehkan, "tapi bagaimana kamu mau menikah sedangkan kamu sendiri belum bisa mengatur hidupmu sendiri? Memang kamu sudah siap menikah?"

"Belum. Hehe.... Makanya aku mau menikah dengan wanita sepertimu atau Mawar. Karena kalian itu mandiri dan teman yang baik. Kurasa saat ini aku lebih membutuhkan sosok teman..."

"Huh apa maksudmu? Kamu cari istri atau teman?" potong Riya.

"Ya istri yang bisa jadi teman....."

"Tapi kamu tidak bisa tidur dengan temanmu. Haha.." potong Riya lagi. Dan lelaki itu hanya bisa meringis.

Percakapan itu terhenti ketika aku tetiba datang. Saat itu aku tak tahu apa yang mereka bicarakan. Sebenarnya aku penasaran karena mereka secara tiba-tiba menghentikan pembicaraan ketika melihatku. Tapi kurasa mereka berdua tidak nyaman membagi cerita padaku, jadi kutahan diri untuk bertanya. Baru beberapa hari kemudian Riya bercerita padaku.

Tuesday, October 17, 2017

Aku pun Suka Ibunya

"Aku mau menikah dengan wanita yang cantik," katanya tanpa dosa pada dua teman wanitanya. Aku dan Tan. Sudah kesekian kalinya dia berkata seperti itu pada kami hingga tak jarang membuat kami kesal. Pernah suatu kali dia cerita tentang teman wanitanya ketika dia masih negara asalnya. Dia bilang mereka sangat dekat dan si teman wanita sering main ke rumahnya sampai-sampai orang tua dan saudara-saudaranya bertanya ada hubungan apa diantara mereka. Tapi dia jawab hanya teman meskipun ia mengaku sadar bahwa teman wanita itu suka dengannya. Kami yang mendengar ceritanya lantas bertanya, "Kalau kamu tahu dia menyukaimu dan kamu tidak, kenapa kamu biarkan dia dekat-dekat denganmu? Kan kasihan dianya."  Yang ditanya hanya mengendikkan bahu sok polos. "Lalu kenapa juga kamu tak suka dengannya?" tanyaku saat itu. "Well, dia ga cantik," kemudian dia menunjukkan foto wanita tersebut dan menyebutkan bagian-bagian wajahnya yang dia tidak suka dan membuat wanita itu tampak tak cantik di matanya. Dan kami hanya bisa geleng-geleng kepala dengan kawan kami satu ini. Menurut kami wanita itu cantik loh.

"Hhh.... sudah berapa kali kubilang padamu. Kecantikan fisik itu sifatnya sementara. Cepat atau lambat wanita cantik itu akan kehilangan kecantikannya. Setelah melahirkan bisa jadi dia menggelembung. Saat tua, kulitnya sudah keriput dan tak cantik lagi. Apalagi kau bilang kau tak suka wanita ber-makeup," omel Tan kesal. Aku memilih keep calm meskipun dalam hati kesel juga dengan lelaki macam ini.

"Tapi... ibuku tetap cantik meskipun sudah tua dan tanpa make up," sanggahnya dengan tetap pasang wajah tanpa dosa yang semakin membuat Tan semakin kesal.

"Ya karena itu ibumu!"

"Tapi ibuku benar-benar cantik..."

"Hhhh..."

Aku paham sebenarnya Tan kesal untukku karena ia tahu bahwa lelaki itu tahu aku ada rasa padanya tapi dengan tanpa dosa dia mengatakan seperti itu di hadapan kami. Menurut Tan, dia benar-benar tidak bisa menghargai perasaan seorang wanita. Well,  memang benar, sebagian dari rasa kesalku memang karena itu. Tapi kiranya masih dalam kadar normal sehingga masih bisa berpikir sehat.

"Ya, Tan. Aku setuju dengannya. Ibunya memang cantik," kataku kalem menengahi. Aku memang pernah beberapa kali bertemu dengan ibunya. Dia tidak berlebihan ketika ia mengatakan ibunya cantik. Gurat-gurat kecantikan dan anggunnya masih tampak jelas padanya yang sudah tak lagi muda. Sederhana, anggun tanpa polesan. Bibir tipisnya selalu tersenyum manis menghiasi wajahnya. Kulitnya pun putih segar dan sehat. Ia tidak terlalu tinggi, membuatnya menjadi tampak mungil dan membuat setiap orang melihatnya ingin melindunginya. Beliau nampak rapuh tapi kuat. Tak hanya fisiknya yang cantik, kepribadiannya pun, masyaaAllah. Sangat lembut dan penyayang. Kurasa setiap orang yang melihatnya akan jatuh cinta padanya. So sweet, warm and lovely. Sungguh. Kurasa hal ini menurun pada anaknya. Sama seperti ibunya, setiap orang yang pertama bertemu dengan lelaki itu pasti akan menyukainya. Tentu saja tak ada manusia yang sempurna. Begitu pula ibu dan anak itu.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...