Sunday, July 4, 2021

Ketika Ideologimu Diuji - Being Superficial



"Nganggo klambi bebas opo wae sing penting kowe nyaman."  Pakai baju apa saja bebas asal kamu nyaman. 

"Nek nyandang sak mampune. Ra perlu nyandang larang-larang mung pengen ketok WAH." Bepernampilanlah sesuai kemampuan. Tidak perlu berpenampilan mahal hanya untuk tampil WAH.

Kurang lebih itu doktrin ibuku sehingga menjelmalah diri menjadi manusia yang tak ngeh tentang mode. Penampilan selalu asal. Yang penting nyaman. Saking nyamanya, tidak pernah terbesit untuk memahami estetika dalam berpakaian. Sering dibilang juga oleh kawan-kawan untuk lebih sedikit memperhatikan penampilan. Tapi, mana kudengar.... Sebaliknya, aku sangat bangga dengan ke-whatever-an ku malah merasa kasihan dengan mereka-mereka yang terlalu rempong dengan penampilannya. Aku harap semua wanita juga fokus dengan aktualisasi diri lainnya. Di sisi lain, aku sengaja berpenampilan sangat apa adanya karena diantaranya aku ingin menyeleksi calon suami. hahaha.... Selain karena memang malas dandan dan pusing dengan penampilan, aku ingin calon suamiku kelak memilihku pertama-tama bukan karena penampilan fisik.

Singkatnya, I was happily living in my ideology. Namun, seiring bertambahnya umur, ada masanya ideologi diuji. Dalam hal ini, ketika aku di Jepang. Sedikit demi sedikit pandanganku mulai berubah karena aku di lingkungan yang sama sekali berubah. Di Indonesia, aku merasa, saat itu, banyak orang yang berpandangan sama denganku, bahwa bersih dan rapi saja cukup. Tapi sejak di Jepang aku menyadari value yang baru dalam berpenampilan. Keindahan.

Saturday, February 6, 2021

[15 Days in Quarantine] Part II - OK, I like It Now

 

Quarantine Day #7


I start to enjoy my quarantine. My biological clock seems to work normally now. YAY! Alhamdulillah. and…. I watched many youtube videos. heheh


  1. Make quarantine diary. At least one sentence ✅
  2. Exercise for at least 5 minutes. I will ask (force) my husband to do it with me. ❌
  3. Make progress for the paper (target: the first draft will be finished within this quarantine time) ✅
  4. Continue reading a book at least one chapter (target: at least finish “The journey into the interior of the earth”) ✅
  5. (Re)memorize of Quran: 1 day 1 surah (1 ayah for new surah) 🆗ish
  6. Play an easy game with my husband (only if he’s available) ❌
  7. German vocabulary ✅

Quarantine Day #8


I miss my husband 😐

  1. Make quarantine diary. At least one sentence (I did it alone) ✅
  2. Exercise for at least 5 minutes. I will ask (force) my husband to do it with me. ✅
  3. Make progress for the paper (target: the first draft will be finished within this quarantine time) ✅
  4. Continue reading a book at least one chapter (target: at least finish “The journey into the interior of the earth”) ✅
  5. (Re)memorize of Quran: 1 day 1 surah (1 ayah for new surah) ✅
  6. Play an easy game with my husband (only if he’s available) ❌
  7. German vocabulary ✅

Quarantine Day #9


Counting the day!!! Lazy day!!! (Well, every day is a lazy day :(

[15 Days in Quarantine] Part I - I'm Gonna Get Crazy!!

 

Quarantine Day #1


I finally made it to the apartment in the evening. Unpacked stuff and emptied the luggage because apparently one of my oatmeal packs broken so need to be cleaned. Ate my first instant noodle, had a call with my parents, prayed, having a call with my husband, ate my second instant noodle, continue cleaning up and put back some snacks to the luggage, then tried to sleep. 


I felt tired since I arrived so I thought it would be easy to fall asleep. 

But seems the jetlag is REAL! I kept waking up every hour and finally, I completely wake up at midnight.

I then decided to call my husband (again) for company. But we couldn’t talk long. So, I pray tahajjud and tried to sleep again afterward. But failed.

So, I tried to find something to do. Of course, I still have works to do but my brain is still not ready for such work. Instead, I contacted booking.com to extend my stay because currently my booking is only for 14 nights, not 14 days and I couldn’t do the extension myself. Apparently, I’ll have to wait for a confirmation from the owner. OK. Let’s see tomorrow.


It’s still the first day of 14 days with not seeing any human, not even go outside, so (I bet) it means no sun too.

But I am already bored. I begin to doubt my sanity will remain stable if I don’t make a clear what-to-do plan. So, let’s make target plan for this 14 days quarantine!


  1. Make quarantine diary. At least one sentence 
  2. Exercise for at least 5 minutes. I will ask (force) my husband to do it with me.
  3. Make progress for the paper (target: the first draft will be finished within this quarantine time)
  4. Continue reading a book at least one chapter (target: at least finish “The journey into the interior of the earth”)
  5. (Re)memorize of Quran: 1 day 1 surah (1 ayah for new surah)
  6. Play an easy game with my husband (only if he’s available)

Quarantine Day #2

Friday, December 18, 2020

[Cerita dan Tarian] V - It just Feels Right

(cerita sebelumnya [Cerita dan Tarian] IV)


Sesekali kulirik lelaki di sebelahku ini. Bukan pertama kalinya aku bepergian jauh dengan seorang lelaki baik untuk perjalanan profesional atau sekedar liburan. Namun kali ini rasanya berbeda, apalagi setelah ia menjawab pertanyaan pertama tadi. Aku merasa ada harapan dan selangkah lebih maju. 

Petang keesokan harinya, kami sudah mendarat di terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Udara hangat menyambut begitu kami keluar dari pesawat. Kelembaban tropis begitu setelah beberapa jam lalu masih dalam aroma musim dingin. Tapi itu tak jadi soal. Daripada memikirkan cuaca, aku lebih sibuk dengan pikiranku karena dua hari lagi adalah hari pernikahan sepupuku, alasan utamaku pulang. Itu artinya kami akan bertemu dengan keluarga besar.

Aku yang mungkin kelihatan 'alim' di mata keluarga, untuk pertama kalinya aku membawa 'teman' dalam acara yang melibatkan keluarga besar. Orang asing lagi. Laki-laki lagi. Entahlah, aku benar-benar tidak bisa membayangkan apa reaksi dan komentar keluarga besarku. Huft, semoga tidak ada yang merasa canggung, harapku. Dan syukurlah, sepupu-sepupuku yang rata-rata lebih tua dariku sangat ramah dan membuat kita semua merasa nyaman. Dia pun nampak tak canggung meski jadi jauh lebih pendiam dari biasanya. Aku merasa tak hentinya tersenyum melihat diamnya mengamati lingkungan. Menurut pengakuannya, ini adalah belahan bumi paling selatan yang pernah ia sambangi. Belahan bumi di selatan khatulistiwa. I totally can relate. Aku sangat paham karena aku pun begitu ketika pertama kali menginjakkan kaki di Jepang. Otakku sibuk mencerna hal baru. Ada beberapa hal yang di Indonesia adalah common sense ternyata tidak di Jepang. 

"Seberapa sering kalian mengalami hujan zenith?" tanyanya waktu itu dalam perjalanan dari bandara menuju rumah salah satu sepupuku. 

"Hah? hujan apa?" tanyaku balik tak paham maksud pertanyaannya. Sepupuku, Mbak Ayu, yang menjemput kami di bandara pun tak kalah bingung. 

Dia pun berusaha menjelaskan diskripsi hujan yang dimaksud yaitu hujan yang terjadi akibat pertemuan dua angin pasat yang membentuk gumpalan naik ke atas awan karena pemanasan yang akhirnya menyebabkan awan menjadi menjadi menggumpal, kemudian mengalami titik jenuh, dan akhirnya hujan. 

"Ya emang gitu kan yang namanya hujan?" aku masih gagal paham kenapa dia tanya hal yang sudah jelas. Butuh beberapa waktu dan sedikit diskusi sengit untuk hanya membahas tentang hujan sampai akhirnya aku ingat memang ada beberapa jenis hujan. Aku tidak ingat pelajaran geografi yang entah sudah berapa abad yang lalu tentang macam-macam hujan karena di Indonesia kita paling sering mengalami satu macam hujan saja, hujan tropis. Hujan yang membuat kita basah kuyup seketika. Tapi ketika aku di Jepang, kadang aku merasa hujan di Jepang aneh. Kadang hujannya "bercanda" doang karena tidak membuat basah kuyup tapi cukup nampak terlalu lebat untuk disebut hujan rintik-rintik. Bukan aku saja orang Indonesia yang pernah mengomentari kalau hujan di Jepang ini ga bikin basah. Mbak Ayu pun yang pernah mengunjungiku di Jepang mengomentari hal yang sama. 

Barulah aku sadar ini salah satu common sense gap di antara kita. "Oh I see... ya maaf, kita lupa ada macam-macam hujan. Di Indonesia ya seperti ini hujannya. Bulirnya besar-besar langsung bikin basah," jawabku akhirnya menutup bahasan tentang hujan.

Wednesday, November 25, 2020

Rasa yang Tak Sama

Saat itu umurku 20 tahun ketika salah sahabatku menikah. Setelah menikah dia berubaha total, bahkan tidak meneruskan kuliahnya. Aku sempat marah dan tidak terima, tapi aku bisa memahami keadaaannya waktu itu karena, pertama, dari awal dia memang tidak suka jurusan kuliahnya, dan yang kedua, memang suaminya berbeda pemikiran tentang cara pandang sebagian besar dari kita saat itu. Ah agak susah menjelaskannya, intinya aku tidak kaget ini akan terjadi.

Tapi, ketika sahabat keduaku menikah tahun berikutnya, aku benar-benar tidak bisa menerima perubahan dia saat itu. Tentu saja aku sangat bahagia atas pernikahannya dan rela menempuh perjalanan jauh untuk menghadiri pernikahannya. Berbeda dengan sahabat sebelumnya, yang kedua ini aku tidak menyangka perubahannya akan se-signifikan itu. Ada beberapa perubahan sikap yang aku tidak bisa terima saat itu sehingga dia benar-benar menangis karena tak tahu harus bagaimana. Tapi akhirnya aku sadar, biar bagaimana pun, prioritas sahabatku itu sudah bergeser. Rasanya pertemanan kita beberapa tahun ini tak ada pengaruhnya sama sekali. Sejak kejadian (pertengkaran) kita waktu itu, meskipun tidak diucapkan dengan kata-kata, aku mundur teratur menarik diri dari kehidupannya dan (waktu itu) sepertinya dia tidak begitu peduli. Ah sudahlah...

Friday, November 13, 2020

Dear My Brothers

Thank you for trusting me.
Thank you for sharing your feeling,
your thinking,
your idea.
Thank you for calling me,
asking for my comments and suggestion.
It really means to me. 
I feel like I can do my job as your sister,
to be your friend that you can talk to.

I know that I wasn't a good sister for you
I was too selfish
I was too judgemental
I was too arrogant
to just listen to and understand you.
I am also in the progress to be the better of me
and I am sure you also see me growing,
to be a better person.

I mostly have a busy time,
if you know me, indeed I always try to be busy.
But for you, 
I always try to make time.
Because busy or not is a matter of priority.

Friday, August 7, 2020

[Cerita dan Tarian) IV - Taaruf

(cerita sebelumnya [Cerita dan Tarian] III)



"Sarah sudah ada calon? Kalau belum, ini ada yang mau taaruf." tiba-tiba sebuah pesan singkat muncul di notifikasi ponselku. Dari seorang kawan lama. Aku bingung apa yang harus kujawab. Hampir satu bulan masih saja tak ada tanda-tanda ia akan menjawab pertanyaan pertama. Ia bahkan tetap pergi ke Vietnam mengunjungi kawan wanitanya, yang sebenarnya juga kawanku. Tak ada yang salah sebenarnya dengan perjalanan dia ke Vietnam, karena memang ia sudah merencanakan jauh-jauh hari sama halnya rencana perjalanan ke Indonesia. 

"Akhir Desember aku mau pulang ke Indonesia, karena sepupuku mau nikah. Kamu jadi mau ikut tak? Mungkin ini kesempatan terakhirmu ke mengunjungiku di Indonesia lho," kataku beberapa bulan lalu seusai lab party di rumah kontrakannya . Waktu itu aku belum kepikiran tentang tiga pertanyaan. Jangankan tiga pertanyaan, pemikiran bahwa aku mulai tertarik padanya saja berkali-kali kutepis. Namun, nafsu sering kali terus berusaha mencari tempat di hati sehingga bayangan berperjalanan pulang kampung dengan seorang kawan, apalagi dengannya, terasa sangat menyenangkan.

"Iya sih... Aku kupikirkan lagi nanti."

"Jangan kelamaan mikirnya. Paling lambat Senin besok kabari keputusanmu ya. Aku mau beli tiket hari itu karena akan ada diskon Senin itu sampai jam 24."

"OK!" 

Sebenarnya tak hanya dia saja yang kuajak ke Indonesia. Kuajak pula kawan-kawan lain agar lebih ramai dan seru perjalanan mudikku nanti. Tapi sejauh ini tidak ada meng-iya-kan ajakanku dengan berbagai macam alasan. Pada akhirnya hanya dia yang nampaknya masih tetap ada keinginan. Namun hinggal 2 bulan sebelum tanggal kepulanganku ia belum juga memberi keputusan, padahal aku harus segera memesan tiket.

"Oh ya, kalau kamu beneran jadi ikut, itu membuatku jadi lebih bahagia. hahaha," tambahku sebelum aku benar-benar pulang bersama kawan yang lain. Dia tampak tersenyum. "Membuatku jadi lebih bahagia". Tak kusangka aku benar-benar mengucapkan itu. Hari itu aku memang berencana mempraktikkan 'ilmu' dari sebuah video dating tips yang kutonton beberapa hari ini, semacam tips-tips motivasi untuk menjadi diri yang lebih menarik dan memahami apa yang biasanya terjadi dalam sebuah hubungan laki-laki dan perempuan. "Ungkapkan dengan jelas bahwa keberadaannya membuat kita lebih bahagia", kata motivator dalam video itu.  Kupikir It Works!  Ia tersenyum dan keesokan harinya konfirmasi kalau dia mau ikut liburan ke Indonesia akhir Desember nanti.