Kerja apa? Kok ga ngajar? kenapa ga jadi dosen aja? Kerap kali menerima pertanyaan seperti itu. Bahkan kadang sekilas-kilas--dan akhirnya jadi berkilas-kilas--pertanyaan itu juga muncul dari dalam diri.
Baiklah, kali ini aku pengen bahas tentang profesi mengajar. Menurut pandanganku pastinya. Mau sepakat atau tidak, itu urusan belakangan, yang penting yang depan tetep aku *iki jane ngomongke opo to -_-
ya pokoknya gitu. Jadi kembali ke bahasan awal. Sejak mulai diajari bercita-cita, seingatku, aku tidak pernah bercita-cita jadi guru, dosen, atau semacamnya. Alasannya simple, karena keluargaku--terutama dari garis ibu--adalah guru. Mulai dari Kakek sampai 5 dari 6 anaknya adalah guru. Bahkan 4 dari 6 menantunya pun adalah guru. Jadi bisa dibayangkan betapa inginnya jiwa muda pengelana ini mengarungi jalur hidup yang berbeda dengan leluhurnya (yang sebenarnya lebih dimotivasi oleh rasa bosan). Apakah aku tidak mensyukuri itu? Tidak. sama sekali tidak. Justru aku sangat sangat sangat bersyukur lahir dan dibesarkan di lingkungan pendidik. Hampir semua aspek kehidupanku didasarkan pada ilmu pendidikan, kasarnya, ga perlu sekolah pun rasanya cukup untuk bisa membaca, menulis, berhitung, ngaji, sholat, dsb, dsb.








