"Karena bersamamu adalah candu"Itu adalah judul postingan di blog seorang mbakyu. Sepakat. Mawar merasa memang begitu. Bersamanya adalah candu. Mungkin. Mungkin. Mungkin begitu pun aku baginya, pikir Mawar. See! Betapa tidak sederhanannya pikiran wanita yang jatuh cinta. Perlakuan baik sekecil apa pun akan dia anggap sebagai perhatian lebih. Well, Mawar mengakuinya.
Baiklah, just for mentally satisfaction, biarkan Mawar bersama dengan imajinasinya dulu. Menurut pandangan mata Mawar -yang mungkin sedang tidak valid- memang dia juga menyukaiku. Apalagi seorang teman, Riya namanya, membocorkan hasil percakapannya dengan lelaki itu.
"Ibuku memintaku untuk segera menikah," katanya.
"Benarkah?" timpal Riya dengan sedikit senyum meremehkan, "tapi bagaimana kamu mau menikah sedangkan kamu sendiri belum bisa mengatur hidupmu sendiri? Memang kamu sudah siap menikah?"
"Belum. Hehe.... Makanya aku mau menikah dengan wanita sepertimu atau Mawar. Karena kalian itu mandiri dan teman yang baik. Kurasa saat ini aku lebih membutuhkan sosok teman..."
"Huh apa maksudmu? Kamu cari istri atau teman?" potong Riya.
"Ya istri yang bisa jadi teman....."
"Tapi kamu tidak bisa tidur dengan temanmu. Haha.." potong Riya lagi. Dan lelaki itu hanya bisa meringis.
Percakapan itu terhenti ketika Mawar tetiba datang. Saat itu Mawar tak tahu apa yang mereka bicarakan. Sebenarnya Mawar penasaran karena mereka secara tiba-tiba menghentikan pembicaraan ketika melihatnya. Tapi Mawar merasa mereka berdua tidak nyaman membagi cerita padanya, jadi ia tahan diri untuk bertanya. Baru beberapa hari kemudian Riya bercerita pada Mawar.



