Thursday, May 24, 2018

Interpolation Methods

Interpolation is the way to estimating a function at intermediate point. There are some methods of interpolation as I refer to Wikipedia:

1. Piecewise constant interpolation : locate the nearest data value and assign the same value.
Piecewise constant interpolation


2. Linear interpolation : taking the midway value between two data points into the a linear function.
Linear interpolation superimposed
3. Polynomial interpolation : is a generalization of linear interpolation by replacing interpolant with a polynomial of higher degree.
Polynomial interpolation plot
4. Spline interpolation : is an interpolation using low-degree polynomial in each intervals and chooses the polynomial pieces such that they fit smoothly together.
Spline intepolation plot


Tuesday, May 22, 2018

Well-posed vs. Ill-posed problems

Biar tidak lupa, berikut adalah catatan super singkat tentang definisi Well-posed problem dan ill-posed problem.

Jadi, menurut wikipedia, well-posed problem adalah model matematika untuk fenomena fisika yang memenuhi syarat :

  1. Ada jawaban pasti dari model matematika tersebut
  2. Jawaban atau solusi dari model matematika tersebut unik
  3. Sifat jawaban atau solusi dari model matematika tersebut berubah sesuai kondisi awal (soalnya)
Sebaliknya, model matematika yang tidak memenuhi ketiga syarat tersebut disebut ill-posed problem, misalnya inverse problem, and continuum model.


Tuesday, February 13, 2018

Bingung

Ini cerita tentang aku dan dia. Dia yang sering membuatku bingung. Dia yang selalu berhasil membuatku menangis sekaligus menenangkanku ketika emosi sedang meledak-ledak. Dia yang akhirnya harus kuakui bahwa aku menyayanginya. Namanya yang selalu tersebut dalam doaku bersanding dengan nama saudara-saudara kandung dan orang tuaku. 

Karenanya, untuk pertama kali kurasakan rasa yang berupa-rupa dalam satu waktu. 

Karenanya, untuk pertama kali temanku mengomentariku bahwa aku “telah buta”.

Karenanya pun, tanpa kusadari ku ‘tlah menyakiti diri. 


Karena, tak kusangka rasa ini datang sebelum saatnya. Sungguh di luar perkiraan. Kupikir tak kan pernah kurasakan gejolak seperti ini kecuali hanya kepada suamiku kelak. Apakah ini jawaban atas doaku agar aku jatuh cinta pada orang yang akan menjadi suamiku sejak pertama aku berjumpa? Atau aku hanya ge-er saja, bukannya jawaban doa tapi pada dasarnya aku saja yang belum bisa menjaga hati? 


Tarik ulur. Itu yang kulakukan sekarang. Harus kuakui, sungguh aku bahagia berada di dekatnya. Aku bahagia ketika ia membutuhkanku. Dan lebih bahagia lagi jika dia tersenyum tulus kepadaku. Meskipun hal yang terakhir itu seperti mengharap mimpi jadi kenyataan. Namun, aku tahu, aku sadar diri aku tak akan kuat menahan rasa ketika berada terlalu dekat dengannya.


Maka pada saat itu, ku memilih mundur. Mencoba menarik diri darinya. Tapi nyatanya, ku tak sekuat yang kukira. Selalu saja ku gagal dan akhirnya mencari-cari alasan agar bisa menghubunginya.


Ketika akhirnya jarak kami kembali memendek, ku pun kembali sadar bahwa ini terlalu berbahaya bagiku. Semakin kurasakan ketergantunganku padanya. Lelaki itu, sudah setahun lebih lamanya telah menyita perhatianku. Sakit hatiah ketika ternyata kenyataan tak sesuai harapan. Ya aku tahu, itu lah konsekuensinya jika menaruh harap pada makhluk. 


Akhirnya kembali kuberdoa agar aku dipalingkan darinya baik rasa maupun jarak, psikis maupun fisik. Namun nampaknya ada bagian lain dari diri ini yg tak rela. Akhirnya doa pun tidak konsisten.  Aku pun bingung. Bingung harus bagaimana. Bahkan bingung harus berdoa bagaimana lagi. 


Hingga akhirnya kumenyerah. Menyerah pada hati. Kumohonkan penjagaan terbaik untuknya, hidayah untuknya, kebahagiaannya untuknya, dan tentunya juga untukku. Kupercayakan semuanya pada Allah semata. 



Friday, February 9, 2018

Omong Kosong tentang Harga Diri *coret*Lelaki*coret*

"Jangan bantu aku. Aku bisa sendiri. Aku tidak sebodoh itu."

Terkejut kami mendapat pesan dari salah satu teman kita. Tak berapa lama kemudian dia mulai mengetik pesan yang tak kalah mengejutkan. Dia menyebutkan kembali kalimat yang muasalnya hanyalah guyonan dan tak ada niatan sama sekali. Mungkin kami kurang mengenal baik karakter teman kami itu. Aku bahkan menangis dibuatnya. Sungguh aku tak habis pikir kok bisa-bisanya dia berpikir begitu. Kalau aku adalah Cinta, sudah kukatan pada Rangga bahwa "Yang kamu lakukan ke aku itu... jahat".

Tapi kucoba mengerti dan memahami. Saat sedang sesenggukan sendiri, masuklah sebuah pesan dari teman,

"Biarkan dulu dia sendiri. Sepertinya sekarang dia sedang memikirkan harga dirinya yang terkoyak. Membantunya hanya akan menodai harga dirinya. Lebih dari itu, ia adalah seorang lelaki."

)*&*&^!!!!!!!
Sebenanya pesan serupa sudah disampaikan oleh teman yang lain. Tapi waktu itu yang menyampaikan perempuan, kali ini teman laki-laki. Dalam hal ini mungkin dia lebih memahami perihal harga-diri-yang-terkoyak ini. Tak mau berdebat, pesan itu hanya kujawab,

"Got it." Oke! Fine. Jadi duduk permasalahannya adalah tentang harga diri. Baiklah.

Tapi kalau boleh jujur, aku punya pendapat tentang harga diri. Wahai para penggila harga diri, kalau kau percaya Allah, kupikir kalian pun tahu sebenarnya Allah lah yang Maha tahu baik dan buruknya kita. Tidak ada manusia yang sempurna. Setiap orang pasti punya aib. Orang yang terkenal baik dan sangat dicintai dan dihormati orang banyak, itu karena Allah MENUTUP AIB dia. Kalau Allah sudah berkendak membuka aibnya, apa daya orang itu?

Perlakuan orang terhadap diri kita, bisa jadi itu lah cerminan atas akhlaq kita. Tentu kita punya kewajiban menutup aib kita dan orang lain. Tapi apa daya jika ternyata aib kita tebongkar lewat orang lain. Marah? Lalu merasa harga diri kita ternodai? Hello....tunggu dulu!!! Lihat dengan mata hati dan pikiran jenih. Kalau ternyata yang dikatakan orang lain tentang keburukan kita itu benar, mungkin itu cara Allah memperingatkan kita. Kalau lah itu tidak benar, ya sudah, cukup klarifikasi tanpa emosi. Kalau klarifikasi tidak menyelesaikan masalah, ya sudah, abaikan. Untuk apa buang-buang waktu untuk hal yang kau tau tidak benar. Jadi tak ada gunanya juga sibuk marah-marah tentang harga-diri-yang-ternoda. Entahlah, bagi seorang lelaki mungkin it's big deal. Tapi apa salahnya berpikir logis seperti ini.

Oke, mungkin sebagai wanita, aku pun tak berhak maksa-maksa lelaki untuk berpikir logis tentang 'harga-diri'nya karena kami pun lebih jauh dari dunia logika, kami lebih perasa. Dan kadang gara-gara rasa ini, mungkin membuat para pria ternoda harga dirinya.

Baiklah, untuk lebih adilnya, mari sama-sama belajar dan terus memperbaiki diri.

Allah lah yang Maha Mengatur. 

Monday, December 11, 2017

Masa Depan

Masa depan adalah misteri. Terkadang kita stuck, berhenti dan 'mati' karena terlalu takut melangkah.
Terlalu takut akan apa yang akan terjadi di depan. Terlalu gelap hingga tak sanggup dilihat. Banyak cabang jalan yang membentang. Beberapa diantaranya tampak ada cahaya samar. Namun, siapa yang bisa menjamin cahaya itu semakin terang dan tak akan pernah padam? Siapa yang menjamin ketika kau ambil jalan itu tak akan kau temui cabang-cabang jalan lain yang mungkin semuanya gelap?

Buntu. Adakah jalan buntu?
Apakah jalan buntu akan terbuka dengan menggerutu?
Sungguh mencintai seseorang itu menguras energi
baik fisik maupun pikiran. 
Jiwa atau raga

Duhai Allah..... hanya engkaulah yang Maha tahu jalan mana yang selamat untukku
Hanya engkaulah yang tahu ke mana kah hati ini akan kau labuhkan
Hanya engkau lah yang tahu masa depan

Bimbing kami, Ya Rabb....
Tuntun kami....

T_____T

Sunday, November 26, 2017

Setajam lidahmu

But prophet mohamad said صلى الله عليه وسلم: من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت. رواه البخاري ومسلم

Pesan balasan itu sampai juga di layar hpku. "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, katakan yang baik atau diam."

You do the first, but sometimes you forget to apply the rest of hadith

Kamu lakukan yang pertama, tapi kadang kamu lupa menerapkan sisa hadits itu. Jleb. Rasanya dia memang benar-benar marah karena mungkin karena menurutnya bercandaku keterlaluan dan setelah make fun of him, aku malah mengingatkan kesalahannya. Akhirnya melayanglah hadith itu.

Beragam jawaban sudah siap kuketik. Pada awalnya berupa pembelaan diri, tapi buru-buru kuhapus lagi. Poinnya bukan itu, Fi. Tegur sang hati pada diri ini. Yang dia katakan benar. Itu yang ingin disampaikannya setiap kali kau berusaha menegur seseorang.  Akhirnya sebaris permintaan maaf lah sebagai balasanku. Setelah itu aku berusaha introspeksi diri dan muncul beberapa pertanyaan untuk diri sendiri.

Thursday, November 16, 2017

[Seri Romansa Mawar] - Candu Katanya

"Karena bersamamu adalah candu"
Itu adalah judul postingan di blog seorang mbakyu. Sepakat. Mawar merasa memang begitu. Bersamanya adalah candu. Mungkin. Mungkin. Mungkin begitu pun aku baginya, pikir Mawar. See! Betapa tidak sederhanannya pikiran wanita yang jatuh cinta. Perlakuan baik sekecil apa pun akan dia anggap sebagai perhatian lebih. Well, Mawar mengakuinya.

Baiklah, just for mentally satisfaction, biarkan Mawar bersama dengan imajinasinya dulu. Menurut pandangan mata Mawar -yang mungkin sedang tidak valid- memang dia juga menyukaiku. Apalagi seorang teman, Riya namanya, membocorkan hasil percakapannya dengan lelaki itu.

"Ibuku memintaku untuk segera menikah," katanya.

"Benarkah?" timpal Riya dengan sedikit senyum meremehkan, "tapi bagaimana kamu mau menikah sedangkan kamu sendiri belum bisa mengatur hidupmu sendiri? Memang kamu sudah siap menikah?"

"Belum. Hehe.... Makanya aku mau menikah dengan wanita sepertimu atau Mawar. Karena kalian itu mandiri dan teman yang baik. Kurasa saat ini aku lebih membutuhkan sosok teman..."

"Huh apa maksudmu? Kamu cari istri atau teman?" potong Riya.

"Ya istri yang bisa jadi teman....."

"Tapi kamu tidak bisa tidur dengan temanmu. Haha.." potong Riya lagi. Dan lelaki itu hanya bisa meringis.

Percakapan itu terhenti ketika Mawar tetiba datang. Saat itu Mawar tak tahu apa yang mereka bicarakan. Sebenarnya Mawar penasaran karena mereka secara tiba-tiba menghentikan pembicaraan ketika melihatnya. Tapi Mawar merasa mereka berdua tidak nyaman membagi cerita padanya, jadi ia tahan diri untuk bertanya. Baru beberapa hari kemudian Riya bercerita pada Mawar.