Tuesday, February 14, 2017
Thursday, January 12, 2017
Ilusi Refleksi
![]() |
| Night Reflection at Kanazawa. 2016 |
Pintu itu tampak sedikit terbuka
Menampakkan keindahan di baliknya
Memang tak nampak semua
Tapi refleksi keindahan itu nampak
Pintu itu tampak berpendar
dari cahaya di baliknya
Semakin besar ia terbuka
semakin teranglah cahaya menyeruak
Ragu kaki ini melangkah
Diam tak bergerak
Di depan pintu saja
Meski pemandangan di balik pintu sungguh menggoda
seolah melambai
Datanglah...
Masih terdiam, bungkam
Meski dorongan dari belakang begitu kuat
Kaki ini masih terdiam
Ragu apakah pintu itu benar-benar terbuka
Apakah pemandangan itu nyata?
Atau hanya lah sebuah refleksi?
Namun refleksi keindahan itu nampak
Ataulah ia hanya ilusi?
entahlah
Nomi 01122017
Saturday, December 31, 2016
Simple Banana Cake
![]() |
| My 4th attempt banana cake ^_^ |
Ingredients:
Flour : 90 gr
Baking Powder : ¼ tsp
Baking Soda : ¼ tsp + half of ¼ tsp
Sugar : 90 gr
Salt : ¼ tsp
Vegetable oil or butter : 85 gr
Egg : 1
Meshed banana : 100 gr
Milk : 50 gr
Directions:
- Preheat oven to 175 degree C for around 15 minutes.
- Mix flour, baking powder, baking soda, sugar, and salt in a bowl (1st bowl).
- Mix egg, oil or butter (melted butter in advance before mix it), meshed banana, milk in a bigger bowl (2nd bowl).
- Using a filter, pour the ingredients in the 1st bowl to the 2nd bowl and stir until all mixed together almost like a dough (very watery dough).
- Pour the batter into the prepared pans. Put cake paper on the bottom of the pan to ease the cake from the pan.
- Bake for 45 minutes. Remove from oven and slice it when it is cooler.
PS: Big thanks to Tan for teach me this. I a ready for the next lesson, sensei :-*
Tuesday, December 20, 2016
Ini Tentang Cinta
Bagaimana perasaanmu kalau yang kita cintai dihina? Oke, mungkin tidak sampai dihina, tapi dinyinyir?
Marah? Sakit hati? Tentu! Itu yang aku rasakan. Namun bagaimana jika yang membuatmu sakit hati itu adalah orang yang kamu sayangi pula? Bagiku, itu lebih menyakitkan. Sakiiiiit. Sungguh. Mau marah? Tapi bagaimana caranya? Marahmu ke dia mungkin bahkan akan memperkeruh suasana. Mengumpat-ngumpat? Memangnya itu menyelesaikan masalah?
Diam saja? Tapi sakitnya tak terperi!!!
Bingung! Bagaimana cara kita membela yang kita cintai itu? Yang kita cintai di atas segala-segalanya yang ada di bumi ini.
Aku tidak rela ya Allah...... Sungguh tak rela agamaku di hina. Sungguh ku tak tahu bagaimana caraku ikut membela agama ini. Aku tak mau seperti mereka yang menyinyir, aku tak mau seperti mereka yang membabi buta membaca cap Islam untuk hal-hal yang buruk. Sungguh, Ya Allah, aku tak rela! Tapi apa yang bisa kulakukan?
Pernyataan berikutnya, bagaimana bisa yang kita cintai tadi dinyinyir, dijelek-jelekkan, dituduh yang tidak-tidak, atau bahkan difitnah? Aku tak bisa sepenuhnya menyalahkan orang yang menyinyir agamaku karena orang yang mengaku mencintainya pun melakukan hal yang sama bahkan kadang lebih buruk dari itu. ITU!!! Sungguh aku tak bisa menyalahkan keduanya. Dan memang bukan hakku untuk menyalahkan dan menyinyir pendapat orang. Sungguh kadang godaan untuk "membela" yang kucinta tersebut sangat menggiurkan. Tapi berusaha sekuat tenaga kutahan. Sebagai gantinya, nyampah di blog :P
Habis mau bagaimana lagi caraku meluapkan marahku?
Yang paling kubisa untuk membela yang kucintai hanyalah dengan berusaha berlaku seperti aturan yang telah Dia tetapkan, meskipun dalam praktiknya banyak cacat.
Rasanya sakit hati melihat orang saling nyinyir hanya karena perbedaan pendapat.
Tapi di sini aku relatif lebih aman. Orang lebih menerima perbedaan meskipun kadang memang harus menahan segala emosi jika ada perbedaan pendapat yang menyinggung masalah prinsip. Sebagai orang yang percaya adanya Allah, jujur, rasanya sakit hati ketika diskusi dengan orang atheis, agnostik, rasionalis atau apalah namanya. Tapi berdebat memang bukan kapasitasku. Sehingga diam dan menelan rasa sakit lah sikap yang kupilih sambil terus berusaha teguh menunjukkan akhlaq Islami. Semoga mereka nanti paham.
Ya, ini lah caraku membela agamaku. Sungguh tak niatan aku menyinggung orang lain, kalaupun ada yang berbeda pendapat, silakan. Untukmu agamamu, untukku agamaku. Tapi kalau lah kau sudah keterlaluan, dan ada seruah untuk melawan, maka aku pun siap untuk berada dalam barisan. Tapi sekali lagi, sungguh tak ada niatanku untuk merusak hubungan silaturahim apapun. Aku akan berusaha menahan diri dari itu, semampuku. Semoga mereka pun paham, dan berusaha menahan diri.
Daripada sibuk dengan perbedaan, bukankah sebaiknya kita sibuk dengan kesamaan?
Marah? Sakit hati? Tentu! Itu yang aku rasakan. Namun bagaimana jika yang membuatmu sakit hati itu adalah orang yang kamu sayangi pula? Bagiku, itu lebih menyakitkan. Sakiiiiit. Sungguh. Mau marah? Tapi bagaimana caranya? Marahmu ke dia mungkin bahkan akan memperkeruh suasana. Mengumpat-ngumpat? Memangnya itu menyelesaikan masalah?
Diam saja? Tapi sakitnya tak terperi!!!
Bingung! Bagaimana cara kita membela yang kita cintai itu? Yang kita cintai di atas segala-segalanya yang ada di bumi ini.
Aku tidak rela ya Allah...... Sungguh tak rela agamaku di hina. Sungguh ku tak tahu bagaimana caraku ikut membela agama ini. Aku tak mau seperti mereka yang menyinyir, aku tak mau seperti mereka yang membabi buta membaca cap Islam untuk hal-hal yang buruk. Sungguh, Ya Allah, aku tak rela! Tapi apa yang bisa kulakukan?
Pernyataan berikutnya, bagaimana bisa yang kita cintai tadi dinyinyir, dijelek-jelekkan, dituduh yang tidak-tidak, atau bahkan difitnah? Aku tak bisa sepenuhnya menyalahkan orang yang menyinyir agamaku karena orang yang mengaku mencintainya pun melakukan hal yang sama bahkan kadang lebih buruk dari itu. ITU!!! Sungguh aku tak bisa menyalahkan keduanya. Dan memang bukan hakku untuk menyalahkan dan menyinyir pendapat orang. Sungguh kadang godaan untuk "membela" yang kucinta tersebut sangat menggiurkan. Tapi berusaha sekuat tenaga kutahan. Sebagai gantinya, nyampah di blog :P
Habis mau bagaimana lagi caraku meluapkan marahku?
Yang paling kubisa untuk membela yang kucintai hanyalah dengan berusaha berlaku seperti aturan yang telah Dia tetapkan, meskipun dalam praktiknya banyak cacat.
Rasanya sakit hati melihat orang saling nyinyir hanya karena perbedaan pendapat.
Tapi di sini aku relatif lebih aman. Orang lebih menerima perbedaan meskipun kadang memang harus menahan segala emosi jika ada perbedaan pendapat yang menyinggung masalah prinsip. Sebagai orang yang percaya adanya Allah, jujur, rasanya sakit hati ketika diskusi dengan orang atheis, agnostik, rasionalis atau apalah namanya. Tapi berdebat memang bukan kapasitasku. Sehingga diam dan menelan rasa sakit lah sikap yang kupilih sambil terus berusaha teguh menunjukkan akhlaq Islami. Semoga mereka nanti paham.
Ya, ini lah caraku membela agamaku. Sungguh tak niatan aku menyinggung orang lain, kalaupun ada yang berbeda pendapat, silakan. Untukmu agamamu, untukku agamaku. Tapi kalau lah kau sudah keterlaluan, dan ada seruah untuk melawan, maka aku pun siap untuk berada dalam barisan. Tapi sekali lagi, sungguh tak ada niatanku untuk merusak hubungan silaturahim apapun. Aku akan berusaha menahan diri dari itu, semampuku. Semoga mereka pun paham, dan berusaha menahan diri.
Daripada sibuk dengan perbedaan, bukankah sebaiknya kita sibuk dengan kesamaan?
Saturday, December 17, 2016
Run!
![]() |
| Shinagawa, Tokyo, Japan |
Run Run Run!
Someone shout out loud
Run!
But I am too tired to run
and I got lost
No one see
Run!
But I still can hear that voice
Run! Run!
Where? Where should I run?
Run!
Where are you?
Who are you?
Could you please show your face?
Could you please tell me where you are?
No one see me
No one
Because there is no one
It's empty
Yes, there is no one
but you
but
who are you?
Run!
Run!
An escape poem from the assignments
Monday, November 21, 2016
Sekelumit cerita - Dari Research Student hingga BU
Banyak yang bertanya bagaimana bisa aku kuliah di Jepang.
Pakai beasiswa apa? Kalau kuliah di Jepang harus bisa bahasa Jepang atau tidak, dan lain-lain. Sebenarnya sudah
lama niat mau berbagi pengalaman tapi kok ya malesnya ga pergi-pergi.
Tapi sudah ada janji dengan beberapa teman untuk share pengalaman komplit
(terutama menyoal pembiayaan). Selain itu, ada juga janji dengan
diri sendiri kalau dapat beasiswa mau nulis cerita perjalanannya. Tapi ini aku nulisnya asal aja ya. Asal mengalir
dari hati tanpa gambar warna-warni dan atau hal-hal nyeni ala-ala blogger pada
umumnya. Ndak. Jadi siap-siap bosen. Heheh.
Oke. Darimana sebaiknya kita mulai? Oh kita mulai saja dari
pertanyaan Gimana cara bisa kuliah di Jepang? Karena itu pertanyaan yang
paling sering muncul.
Gimana cara bisa kuliah di Jepang?
Sebenarnya ada banyak cara, yang paling umum
(sepengetahuanku) adalah adanya kerjasama antar institusi misal antar
universitas, dan/atau program-program PNS (terutama dosen dan peneliti). Kalau
ada kerjasama dari institusi gitu sepertinya memang lebih gampang ya,
informasinya bisa ditanyakan langsung ke institusinya. Biasanya ada beberapa program
yang bisa diikuti. Tinggal ikuti persyaratannya, kalau rezeki, gampang lah
insyaAllah.
Nah, gimana kalau kita ini dosen bukan, mahasiswa bukan
(udah lulus maksudnya), kampus atau almamater mungkin baru ‘terdengar’ (lebih
parah dari sekedar terakreditasi) sehingga ga ada kerjasama dengan kampus di luar
negeri, cupu pula, ga punya duit pula, pinter juga enggak, IPK pas-pasan.
Kalau memang begitu kondisinya, saran paling utama adalah kencengin deh doanya.
Hehe…
Eh tapi serius. Itu ciri-cirinya mendekati kondisiku lho.
Selain doa, asalkan ada usaha dan tawakkal yang sungguh-sungguh sehingga orang
tua dan Allah ridho, inshaAllah bisa.
Nah,
jadi kalau kita tidak terikat suatu institusi, maka kita harus kerja keras
mencari jalur yang lain dan berusaha lebih keras. Berikut ini poin-poin yang
mungkin bisa diusahakan (ga urut gapapa lho):
Saturday, October 15, 2016
Hijrahku bukan Mekah-Madinah
![]() |
| Lokasi: Wahana "Jaws" di Universal Studio Japan |
Seiring berjalannya waktu, entah sejak kapan, rasanya makna hijrah semakin luas. Entah benar atau tidak, sepertinya di Indonesia sekarang orang memaknai hijrah adalah segala macam move on. Umumnya dari move on dari yang tadinya jauh dari Islam ke yang lebih dekat dengan Islam. Yang tadinya tidak pakai jilbab, sekarang hijrah jadi pakai jilbab, rutin datang ke pengajian, lebih serius belajar Islam dan lain-lain. Secara fisik, bahkan pindah rumah pun orang bisa mengatakan itu hijrah.
OK deh. Fix. Kalau gitu aku juga mau memaknai kepindahanku ke Jepang yang tujuan utamanya adalah melanjutkan studi sebagai hijrah juga.
Subscribe to:
Posts (Atom)




