 |
| UTOPIA. pict by Farida Arum |
Ini adalah kisah seorang anak udik yang selama 23 tahun hidupnya ia habiskan di 3 kota yang aman, nyaman, damai, tentram, ijo royo-royo gemah ripah loh jinawi. Sebut saja namanya melati.
Berawal dari sebuah keputusan dari atasan di kantornya di Yogyakarta, bahwa ia harus pergi ke Jakarta selama 7 hari untuk sebuah perjalanan dinas. Naik pesawat. WOW! Si melati ini seumur-umur belum pernah naik burung besi macam itu. Dan yang lebih mengejutkan lagi, ia harus berangkat SENDIRI karena teman-teman satu tim sudah berangkat lebih dulu di hari sebelumnya. Jadi, bisa dibayangkan bagaimana nasibnya si Melati ini nanti? Jangan dibayangkan, karena aku akan menceritakannya padamu. Tapi sebelumnya mohon maaf kalau cara berceritaku kurang oke. Yah.. sejatinya memang aku bukan tukang ketik.
ohohoo...
O iya, sebelum mulai perjalanan, ada informasi yang sangat amat penting untuk kau ketahui. Jadi si Melati ini kehabisan tiket pesawat untuk keberangkatan pada hari yang dijadwalkan, jadi ia berangkat pada hari berikutnya. Itu artinya, lama perjalanan dinasnya adalah 6 hari, bukan 7 hari lagi. Udah, itu aja informasinya. Penting banget kan? Iya dong.
Baiklah, aku mulai ya cerita tentang si Melati ini.
Hari Pertama
Berbekal print out e-tiket yang telah dipesankan oleh teman kantor dan beberapa uang jatah perjalanan dinas di tas, si melati berangkat ke bandara Adi Sucipto Yogyakarta kira-kira pukul 5.35 dari kost dengan diantar teman seperguruannya, sebut saja namanya Asih. Dengan kecepatan yang sedang-sedang saja, sambil ngobrol ngalor ngidul sepanjang perjalanan, Melati dan Asih tiba di bandara kira-kira pukul 6.45. Luar biasa. Hanya dalam waktu +-10 menit dengan kecepatan sedang (
iya lah, sampai ngobrol gitu) bisa menempuh jarak..... mmmm...... berapa kilo ya.... mmmm ya pokoknya agak jauh lah. So, itu yang akan segera dirindukan Melati nanti ketika sudah sampai di Jakarta.