Saturday, January 3, 2026

Istri Low Maintenance

Entah waktu itu awalnya ngobrol, aku cuma inget bagian terakhir kalimat yang diucapkan sambil lalu pagi itu, "Enak kan punya istri low maintenance kayak aku." Itu beneran ga lagi nyindir atau habis berantem atau apa. Habis ngomong gitu aku langsung balik ke ruang kerjaku untuk WFH.
Waktu baru menyalakan laptop, tiba-tiba suami nongol dari belakang sambil bawakan teh sambil berkata "Sebenarnya emang iya sih."
Selama sepersekian detik aku sempat loading, "hah? Apa? Ngomongin apa ya ini?"
"Emang bener, kalau kamu istri low maintenance," katanya sambil senyum-senyum. 
Ok... aku dengan senang hati menerima itu sebagai pujian. Tapi aku penasaran juga POV dia tentang low maintenance yang dia maksud apakah sama dengan POVku.
"Tunggu dulu, bagian mana nih yang menurutmu aku low maintenance?"
Masih dengan senyum-senyum dia jawab, "Kayaknya ga ada orang lain yang bisa menerima ke-absurd-an ku kayak kamu. Kayaknya tidak semua istri santai aja dengan segala hobi dan kerandoman suaminya...." 
Di situ pecahlah tawaku, tapi aku cuma bilang "I see..." kemudian dia keluar dari ruang kerjaku dan aku pun kembali ke laptop.

Pernyataan dia itu singkat, tapi dalam bagiku. Aku bersyukur, setidaknya dia melihat dan menghargai usahaku dalam membangun cinta di rumah tangga kita. Dia tahu betapa ada banyak hal yang dia lakukan tapi aku tidak suka. Tapi dia melihat usahaku untuk memahaminya, memilih sikap dan bertutur kata.
Ada kalanya aku harus 'berargumen', ada kalanya aku hanya membiarkannya dalam dunianya. Dia memahami usahaku agar ketulusan cintaku tersampaikan dengan baik meskipun itu tak mudah. Tak mudah untuk bersikap dan berkata-kata yang tidak menyakitkan ketika kita sedang kecewa atau marah. Tapi dia melihatku berjuang.
Di sisi lain ada kesadaran diri, aku pun tak sempurna. Tidak semua orang memahami pola pikir dan pilihan hidupku. Tetiba teringat komentar seorang sahabat ketika melihat gaya hidup dan cara komunikasi kami,
"Argh.. you two have the same quirks 🙄."

Begitulah bagaimana kita bersinergi, selalu berusaha untuk terus belajar memahami satu sama lain dan menjadi pribadi yang lebih baik termasuk untuk pasangan, keluarga, dan lingkungan. 
Pada akhirnya, cinta memang bukanlah sekedar "hadiah" dari Sang Maha Kuasa, namun cinta adalah kata kerja yang harus diusahakan, dirawat dan dijaga.

Semoga Allah selalu melindungi kita dan keluarga