Saturday, January 3, 2026
Istri Low Maintenance
Saturday, April 5, 2025
[Liburan] I - Balada Pesiar Perdana
Friday, December 27, 2024
Pertemanan dan Masa Kadaluarsanya
Sunday, October 13, 2024
Permohonan visa Schengen untuk kunjungan Orang Tua ke Jerman
Saturday, April 27, 2024
Mudahkan jangan Dipersulit
Entah bagaimana kebenaran cerita tersebut, aku mendapatinya masuk akal dan setuju dengan pesan yang disampaikan untuk tidak mempersulit orang masuk Islam dan mendapatkan hidayah. Kita manusia biasa yang tidak memiliki hak untuk menghakimi status spiritual seseorang. Apalagi dalam hal ini sangat mudah kita merasa mendapat hidayah lebih dulu kemudian merasa cukup 'senior' untuk mengajari tentang agama kepada mualaf atau orang yang baru 'hijrah'.
Bagiku, cerita itu memberi kesan yang lebih karena tepat seperti pengalaman pribadi. Aku dan suami adalah teman baik sebelum kami mulai ada rasa dan memutuskan untuk menikah. Saat itu, suami seperti pada umumnya pemuda Eropa masa kini, agama bukan lagi untuk diimani dan menikah hanyalah masalah administrasi dan keuntungan pajak. Sedangkan aku, dari kecil dibesarkan di lingkungan yang beragama dan sangat mensakralkan konstitusi pernikahan. Sehingga jelas dari awal kami tak ada niatan untuk hubungan yang lebih dari teman.
Tuesday, March 28, 2023
Terima Kasih
Friday, August 26, 2022
Umroh Patah Hati (Part 1)
Prolog
Sebut saja namanya Mawar, gadis berusia 26 tahun yang bercita-cita nikah muda yang tak kunjung menemukan/ditemukan tambatan hatinya. Sejak SMA Mawar sudah aktiv di organisasi keislaman dan sudah sangat 'teracuni' dengan konsep nikah muda. Salah satu model yang menjadi salah satu motivasi terbesarnya adalah ibu sahabatnya. Ibu dari sahabat Mawar ini menikah di usia 21 dan miliki 5 orang anak. Kita sebut saja ibu Dewi. Di mata Mawar, ibu Dewi adalah sosok bidadari dalam bentuk manusia dan idaman semua anak seumuran Mawar. Pada saat itu, belum populer ilmu-ilmu parenting masa kini yang mengharamkan tindak 'kekerasan' verbal, visual, maupun mental. Tentu saja Mawar sangat mencintai ibunya, tapi semakin sering Mawar menginap di rumah sahabatnya dan melihat bagaimana ibu Dewi bersikap dan mendidik anak-anaknya, tak ayal membuat Mawar terkadang membandingkan bagaimana ibunya bersikap kepadanya dan adik-adiknya.
Tapi kita tidak akan membicarakan soal bagaimana ibu-ibu itu mendidik anak-anaknya. Intinya, semakin mengamati ibu Dewi, diam-diam Mawar mengidolakannya dan ingin mengikuti jejaknya untuk menikah di usia muda. Tentu saja wacana nikah muda juga didukung dengan lingkaran pertemanan dan kegiatannya yang memang membuat Mawar tak tertarik untuk menjalin hubungan asmara atau sekedar hubungan yang melibatkan rasa. Idealismenya kukuh, tidak ada pacaran (apa pun bentuknya) sebelum menikah, perlahan tapi pasti membentuk benteng kokoh di hati yang tampaknya tak tertembus.