Thursday, June 26, 2014

Error Whatsapp - Restart Setiap Inizializing

Untuk kesekian kalinya WA ku bermasalah, tapi akhirnya alhamdulillah mission complete. Kupikir problem WA ini ditimbulkan dan hanya terjadi pada hape-hape cino macem punya saya ini, nampaknya tidak sepenuhnya kesalahan pordusen (ya iyalaaa).
Sebenarnya ada beberapa kasus problem WA yang pernah kualami, tapi yang ingat cuma 2 ini :
1. Low Disk Space yang disebabkan aktivitas WA terus meningkat dan memakan memory ujung-ujungnya si andro jadi sering restart. Yang kulakukan adalah : restart andro, buka WA kemudian hapus beberapa history chat (terurama chat dari group), kalau ga mau left dari group, clear conversation aja.
Kalau clear conversation masih tidak berhasil, terpaksanya clear data. Konsekuensinya kalau clear data, adalah harus initializing ulang, mulai dari mendaftarkan nomor WA.

2. Ada notifikasi pesan masuk tapi WA tidak bisa dibuka karena selalu stuck atau nyangkut di proses initializing kemudian malah reboot si Andronya. Clear data sudah ga mempan. Uninstall kemudian install ulang WA juga mental. Ganti nomer WA awalnya sukses, tapi kemudian gitu lagi. Akhirnya ketemu penyakitnya,

Friday, May 30, 2014

Antara Tuntutan, Kepentingan dan Keinginan

Seperti biasa, postingan ini isinya hanya sampah. Jadi jangan buang waktumu untuk membaca sampai bawah. Tapi kalau nekat, terserah deh, tanggung sendiri kalau bingung. Too random eh >_<

Masih ingat film peterpan yang dia tidak ingin jadi orang dewasa? Tentang ia yang ingin menjadi anak-anak selamanya. Aku curiga kisah Peterpan itu sebenarnya keinginan terpendam si pembuat cerita. Mungkin juga itu jeritan hati manusia yang sedang menginjak masa transisi menuju fase kehidupan yang penuh jalan bercabang. Setiap cabang yang dipilih menentukan arah mana ia selanjutnya dan parahnya tidak akan bisa kembali ke persimpangan awal mulai memilih.
Ih ngomongan apa sih ini. Ya pokoknya gitu lah. Hanya sedikit melihat ke perasaan si peterpan. Sepertinya aku sedikit paham kenapa peterpan ingin terus menjadi anak-anak. Kalau kata temannya teman -nah loh panjang sanadnya- di sebuah status jejaring sosial "Aku ingin menjadi anak kecil lagi, permasalah paling sulit yang dialami paling adalah PR matematika."

Monday, May 5, 2014

It Depend On Look

Kali ini lagi-lagi postingan ga jelas curahan hati. Ceritanya kemarin, untuk kesekian kalinya aku mampir ke sebuah toko gadget, kemudian si mas-mas tokonya bilang "kalau yang murah di sini mbak. Yang ini juga murah"

WHATSS!!!!! Bahkan aku belum bilang spek yang aku cari yang gimana.

Bayangkan jika Anda masuk ke toko dengan uang segepok berharap mendapatkan barang berkualitas bagus berapa pun haarganya tapi ketika baru melangkahkan kaki masuk ke toko dan setelah menjawab pertanyaan "cari apa mbak?" kemudian langsung diarahkan "Kalau yang murah sebelah sini mbak..." dan bahkan kita belum sempat menyebutkan spesifikasi yang kita butuhkan. Coba bagaimana perasaan Anda?

Pertama kali diperlakukan seperti itu di satu toko itu, akunya masih bisa biasa aja. Aku sih sadar diri mungkin penampilanku ga nampang punya duit banyak. Tapi untuk kunjungan kedua, ternyata masih juga seperti itu. Maka, keluar dari toko itu, saya putuskan untuk tidak membeli lagi ke sana. Selain karena tidak nyaman dengan pelayanannya, ternyata dengan service yang minus tersebut tidak sebanding dengan pengetahuan si penjaga toko tentang barang yang ia jual. Jadi ketika aku tanya bedanya barang A dan B apa, bedanya A dengan C apa kok bisa jauh banget harganya, cuma dijawab "emmm sama aja sih mbak, cuman beda harga. Kalau yang paling murah yang ini..." Padahal spesifikasinya memang beda jauuuuuh.... bisa-bisanya dibilang sama aja coba. Entah akunya yang terlalu sensi atau memang begitu kenyataannya, rasanya si masnya sering mengulang kata "murah". Memang tampangku ni tampang "murah"an tenan po ya ? Ya wis lah... sakkarepmu mas, yang penting aku dapat barang yang sesuai dengan kebutuhan. -_____-

Etika. Persoalannya di situ. Saran untuk petugas-petugas front line baik toko penjual barang atau jasa. Sebaiknya jangan terlalu yakin dalam melabeli pembeli dilihat dari tampilannya. 'pembeli berduit' dan 'pembeli tidak berduit'. Jangan salah lho, misalnya ada orang kampung datang ke showroom mobil, bisa jadi memang dia sudah ngantongi segepok uang CASH (no kredit) hasil panen belasan petak sawah buat beli mobil. Coba bandingkan dengan orang kota yang gayanya borju abis, ujung-ujungnya juga kredit. Dan kasus seperti itu tidak cuma satu atau dua.

Well, it may be depend on your look. May be you can get the better service by your better look. Pelajaran berharga buatku. Kalau dulu aku bangga-bangga aja dikira masih SMA, tapi setelah kupikir-pikir, mungkin selama ini aku dikira anak SMA (bahkan SMP) karena ketidakmampuanku menata penampilan =________________=

Pada akhirnya aku masih harus banyak belajar...


Monday, April 28, 2014

Flash Back for Future - Catatan Galau Masa Transisi

Masih ingat ketika pertama kali menginjakkan kaki ke calon SMA saat pendaftaran. Masih mengenakan seragam SMP, aku melewati lorong koridor gedung utama sekolah lantai 1 yang penuh lemari piala di sisi kanan dan kiri. Hingga akhirnya aku dinyatakan lolos masuk ke SMA itu, aku pernah ber-azzam untuk menyumbangkan minimal 1 piala untuk almamaterku. Tahun berganti tahun masa SMA yang penuh warna kulewati hingga tak terasa hampir usai masaku di SMA dan aku sadar belum ada satu pun piala yang kusumbangkan untuk sekolah. Bahkan hingga lulus. Akhirnya aku harus cukup menelan ludah mengingat ketidakmampuan diri memenuhi azzam yang dibuat sendiri.

Fase berikutnya di bangku kuliah. Meskipun bukan perguruan tinggi yang favorit, tapi sejauh yang kuingat, tidak pernah ada penyesalan aku pernah kuliah di sana. Pertama menghirup udara kampus, lagi-lagi aku ber-azzam hal yang sama ketika aku pertama masuk SMA. Ya, aku ingin mengukir prestasi yang membanggakan untuk almamaterku. Dan lagi-lagi tak terasa usai sudah masa studiku di kampus itu dan lagi-lagi tanpa memenuhi azzamku.

Kemudian tahun-tahun pasca kuliah, dunia kerja menjadi pos utama kehidupan padahal sebelumnya tidak terbayang bakal menjadi wanita karir. Dalam bayanganku sebelumnya, hanya institusi pendidikan yang terus menjadi pos utama kehidupanku selain pos keluarga dan tetangga. Tapi begitulah kenyataannya, pos pekerjaan menjadi duniaku saat ini. Namun pertama kali masuk ke dunia kerja, idealismeku tidak se-yakin dulu ketika pertama kali masuk SMA maupun kuliah. Pertama kerja, aku tak memiliki azzam apapun untuk kantorku.

Seiring berjalannya waktu, hati nurani mulai kembali terusik. Kenapa mudah sekali mengingkari azzam. Bukankah seharusnya ada dorongan untuk mewujudkannya?

Kata orang, masa transisi. Masa ketika orang beranjak dari dunia remaja ke dunia orang dewasa. Pada masa transisi ini banyak sekali tuntutan pertanyaan hidup yang harus dijawab. Entah tuntutan pertanyaan dari diri sendiri maupun dari orang lain. Alhamdulillah, cukup bersyukur aku tidak harus tertekan dengan tuntutan pertanyaan dari luar, seperti "kapan nikah?" "kapan kerja?" "Kapan S2?" mungkin. Karena emang udah kerja, jadi pertanyaan itu cukup mudah dijawab meskipun anak pinak dari pertanyaan itu tetap saja ada. Tentang kapan nikah, sejauh ini sih masih cukup nyaman dengan jawaban "Yo nek wis jatahe lak yo nikah. Dongane wae mugo-mugo ndang diparingi yang terbaik" yang kurang lebih translatenya Ya kalau sudah saatnya ya pasti nikah. Do'anya saja semoga segera diberikan yang terbaik. Jawaban yang cukup absurd tapi cukup lah untuk melegakan bagi yang bertanya. Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang alhamdulillah sejauh ini tidak sampai membuat tertekan.

Tapi dari sekian pertanyaan ada pertanyaan dari dalam diri yang sungguh mengusik dan cukup mengiris hati.

Sunday, April 13, 2014

Petualangan Bikin Paspor di Jogja

Setelah sekian lama ngomong tok mau bikin paspor (pamernya udah bertahun-tahun yang lalu kalau mau bikin paspor) akhirnya bulan ini tekat berhasil memaksa otakku untuk memerintahkan sang kaki untuk melangkah kantor imigrasi kelas I D.I Yogyakarta demi mengurus pembuatan paspor baru.

Layaknya seorang nubie culun yang tak tahu menahu tentang prosedur pembuatan paspor, aku juga searching dan tanya sana sini. Informasi paling penting yang kubutuhkan saat itu adalah "Sabtu buka ga?" dan jawabannya adalah tidak. Temanku menyarankan untuk ambil formulir dulu aja.
Akhirnya hari Jum'at pas jam istirahat, jam 12.30 aku tancap gas ke Kantor Imigrasi Kelas 1 Yogyakarta yang berlokasi di dekat Bandara Adi Sucipto di Jalan Solo. Kalau dari arah Solo, pertigaan Bandara itu lurus dikit ntar kiri jalan ada kantor Imigrasi Kelas 1 Yogyakarta. Kalau dari arah kota Jogja, sebelum pertigaan bandara putar balik di depan Pom Bensin.

Sampai di kantor langsung menuju parkir di basement. Di basement itu ada fotocopian. Berhubung memang masih jam istirahat, iseng aja mampir dulu di fotocopian siapa tahu ada informasi mendukung. Ternyata memang ada, informasi pentingnya adalah, semua berkas yang dilampirkan untuk mengurus paspor harus berukuran A4. Oke, catet.
"Fotocopy semua dokumen persyaratan paspor dengan menggunakan kertas A4...."

Thursday, March 13, 2014

Lagi-Lagi tentang Ukhuwah

Beberapa pekan yang lalu aku posting tentang pengendalian emosi. Sebenarnya itu didasari dari konflik ukhuwah yang alhamdulillah dapat terselesaikan dengan outstanding karena atas izin Alloh kedua belah pihak dapat mengendalikan dan mengelola emosi. Semoga seterusnya bisa seperti itu.

Masih berkaitan dengan ukhuwah. Ukhuwah Islamiah atau persaudaraan yang islami itu baru terbukti di saat-saat yang tidak enak. Saat konflik ada, di situlah ukhuwah diuji dan dibuktikan. Kali ini akan kuceritakan sebuah kisah yang menurutku mengharukan. Tapi berhubung kemampuan menulisku sangat standar, entahlah, kalian bisa merasakan apa yang kurasakan atau tidak. Oiya, sebelum aku mulai, perlu diinfokan bahwa sebenarnya aku belum minta izin yang bersangkutan untuk membagi cerita ini. Jadi kita anonim aja ya semua nama-nama terkait.

Sebut saja namanya RJ. Sebelumnya aku sama sekali tidak mengenal RJ (bahkan sampai sekarang). Jangankan mengenal, tahu ada makhluk bernama RJ saja tidak. Qodarullah, aku bergabung dengan teman-teman tim sukses seorang calon legislatif dari sebuah parta dakwah dan membuat group di WhatsApp untuk saling berkoordinasi. Tujuan utama dibuatnya group tersebut memang untuk saling berbagi informasi terkait program-program baik jangka pendek maupun jangka panjang yang akan diimplementasikan di masyarakat. Tapi kadangkala ada juga yang share topik-topik di luar program-program kita, termasuk informasi yang disampaikan oleh salah seorang anggota group yang mengabarkan bahwa ada anak kontrakan yang kesurupan sejak kemarin malem (Kamis malam pekan pertama bulan Maret). Qodarullah, salah seorang anggota group yang lain (sepertinya) berpengalaman rukyah, kemudian melalui WA memandu teman-teman yang di kontrakan untuk rukyah.
"Baca surat ini, baca surat itu. Anaknya diginiin, kasih ini, kasih itu, dll" yah aku memang lupa apa saja yang diinstruksikan. *seingatku selama 23 tahun hidup, tidak pernah lihat orang kesurupan.

Wednesday, March 12, 2014

Kemarilah, Maka Kuceritakan Tentang Jepang

Datanglah kemari, maka akan kuceritakan engkau tentang Jepang. Nggaya... ke Jepang baru di mimpi doang mau cerita tentang jepang.
Tapi tak apa lah ya.... sumbernya dari si boss yang baru pulang dari Jepang. Sebenarnya ini cerita tahun lalu, tapi baru keinget sekarang buat diposting, lumayan untuk rame-ramein blog.
Yaap... dimulai dari mendengar cerita-cerita tentang negeri sakura dulu, nanti seiring berjalannya waktu pasti semakin mendekat menuju ke sana beneran #someday.
Waktu cerita-cerita itu ada beberapa poin yang baru kuketahui tentang Jepang. Ini aku buatkan beberapa listnya. Entah bener atau salah pada kenyataannya, yang sudah pernah ke Jepang, silakan dikoreksi :D

1. Beli tanah di Jepang terbatas
Katanya, orang Jepang jarang yang punya sertifikat tanah, kebanyakan cuma sewa-sewa apartemen atau ngontrak. Katanya memang ada regulasi yang sangat ketat untuk masalah jual beli tanah. Sebenarnya aku belum menemukan informasi ini waktu googling, jadi entah bener atau salah atau kurang tepat, who knows 

2. Taksi di Tokyo mehong gila