Sunday, January 25, 2015

Standar Deviasi

Standar deviasi atau simpangan baku adalah ukuran keragaman (sebaran) data statistik yang sering digunakan. Intinya standar deviasi ini digunakan untuk menghitung keragaman suatu kelompok data.

Berikut ini rumus untuk standar deviasi
1. Standar deviasi untuk populasi disimbolkan dengan σ (sigma) :
    \sigma = \sqrt{\frac{1}{N} \sum_{i=1}^N (x_i - \overline{x})^2},

2. Standar deviasi untuk sample :
s = \sqrt{\frac{1}{N-1} \sum_{i=1}^N (x_i - \overline{x})^2},

keterangan :
\scriptstyle\{x_1,\,x_2,\,\ldots,\,x_N\} adalah nilai data
 \scriptstyle\overline{x} adalah rata-rata nilai data


Untuk syntax standar deviasi sudah ada di matlab yaitu dengan menggunakan std
lebih jelasnya langsung merujuk ke referensi berikut saja :D

http://www.rumusstatistik.com/2013/07/varian-dan-standar-deviasi-simpangan.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Simpangan_baku
http://www.mathworks.com/help/matlab/ref/std.html

Semoga bermanfaat ^^

Wednesday, January 14, 2015

The Chapter

Rasanya sayang terlalu sayang untuk tidak menuliskan memori perjalan hidup ini.
Sejenak flash back ke beberapa tahun lalu. Terhitung selepas SMA, semakin banyak tantangan hidup. Pilihan hidup terbentang bebas di depan mata. Take it or leave it.
Pilihlah jalan mana yang kau mau maka waktu tak akan mengijinkanmu kembali ke tempat di mana kamu memulainya. Bersyukur jika kau memilih jalan yang benar. Kalah salah? ya, kau tidak akan bisa memaksa waktu memutar mundur detiknya kecuali jika kau adalah Nobita, kau bisa memaksa Doraemon masuk ke meja belajar kembali ke masa lalu. Tapi ingat kau bukan Nobita :P

Episode demi episode telah dilewati. Begitu juga episode demi episode menantimu di depan yang saat ini hanya Alloh yang tahu. Chapter demi chapter telah dilalui. Chapter senang, chapter sedih, chapter masa bodoh, chapter galau, chapter kesuksesan, chapter kegagalan, semua chapter dilewati silih berganti.
Tugas kita?

Sunday, January 11, 2015

Belated Happy New Year 2015

2015... humm.... mungkin 2015 ini akan menjadi titik tolak perubahan besar dalam hidupku. Entahlah apa itu. Aku pun masih menunggu. Kenapa perubahan besar? It's simple, karena menjelang 2015, 2014 kemarin ditutup dengan kabar yang di luar dugaan. Skenario Alloh selalu berjalan dengan baik. I believe on that. Di penghujung 2014 menjelang 2015, hatiku terlalu sering berdebar menanti kabar. ufufufu..... dan kabar apakah itu?? Aku pun masih menunggu.
Hanya bisa berdo'a berusaha dan tawakkal. Selanjutnya biarkan Alloh yang tentukan. 3 bulan bukan waktu yang sebentar untuk deg deg-an terus. Mungkin jiwa muda yang tak sabaran ini belum bisa mengontrol dengan baik si jantung memompakan darah ke seluruh tubuh. 
Ah.. 2015.... menjelang seperempat abad hidup di dunia. Semoga hidup ini bisa bermanfaat bagi sekitar. Semoga Indonesia menjadi lebih baik dengan pemimpin-pemimpin yang amanah. Semoga mimpi-mimpiku satu demi satu terwujud. 
Semoga...........ah sudahlah kita tunggu 1 purnama lagi >,<


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~<>~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Penjelasan: Postingan di atas adalah saat-saat berdebar menanti Certificate of Eligible (CoE) untuk berangkat ke Jepang, mimpi yang kurang lebih 8 tahun tertunda. Sekarang, sudah 5 tahun kemudian dari postingan tersebut dan saya masih di Jepang ^^. Alhamdulillah 

Wednesday, December 3, 2014

ITQON

"mbak, sibuk ga? mau tanya-tanya" kataku saat chat dengan seorang teman


"ga terlalu. gmn?" jawabnya


"kerjaanmu ngapain aja sih? Kok kayaknya sibuk terus? Sering bosen ga?"

"sebenarnya judul tugasku itu cuman : petugas administrasi n keuangan saja. tapi, pada kenyataannya ..."<skip> <skip> <skip> dan ia pun mendiskripsikan detail kegiatannya di kantor yang seabrek tidak sesuai dengan SOP yang sebenarnya.

"tp kamu merasa menemukan passionmu di situ? Di pekerjaan2 spt itu?"

"awal2nya nggak...rasanya udah mau keluar2 ajabosen <skip> <skip> <skip>  sampai aku ingat kembali alasan aku bergabung di yayasan ini yaitu agar hidupku ada gunanya di dunia ini plus aku dapat materi ttg ITQON"

"ITQON apaan?"

Thursday, October 30, 2014

Untukmu Teman


It's about your friends
Sometimes they make you smile
support you
but sometimes they make you cry
make you angry
make you annoyed
or may be (you feel) they betrayed you

Sedih rasanya melihat seorang teman berakhir musuhan dengan sahabatnya karena orang baru yang masuk.
Pernah ga kamu lihat teman kita menjauhi sahabat-sabahatnya karena lelaki yang baru-baru saja memasuki hatinya dan mewarnai hidupnya.
Warna yang diberikan lelaki itu menutup sebagian besar warna yang pernah diberikan sahabat-sabahatnya.
Tau ga, gimana perasaan seorang sahabat yang selalu memikirkanmu, berusaha untuk selalu men-support-mu, berusaha memahamimu, berusaha membantumu setiap saat setiap waktu ternyata harus menerima pernyataan pahit dengan pernyataan "musuhmu adalah temanmu" karena ternyata usahanya itu tidak sejalan dengan maksudmu.

Bukan, bukan. Itu bukan kisahku. Tapi itu aku kulihat di beberapa temanku. Melihatnya saja rasanya sedih banget. Rasanya ikut sakit hati. Memang sih, kadang (mungkin sering) teman kita membuat kita sebal, dan mungkin yang dia lakukan tidak sejalan dengan maksud kita sehingga ketidakselarasan tujuan tidak tercapai #apasih. Maksudnya, mungkin maksud teman baik kita jadi nampak suatu hal yang buruk menurut kita. Atau ketika dia sedang tidak dalam kondisi psikologis yang baik, tanpa ia sadari ia melakukan hal-hal yang menyakiti teman yang lain.

Ya aku pernah merasakan itu, tapi setelah kucermati, bisa jadi hal buruk yang dilakukan teman kita entah sadar atau tidak kita juga melakukannya. Seiring bertambahnya umur- #uhuk- membuatku semakin berhati-hati menghakimi orang karena ya itu, bisa jadi tanpa kita sadari kita juga menyakiti orang lain dengan cara yang sama, melakukan hal-hal buruk yang dulu kita hina, dan berperilaku seperti orang-orang yang dulu kita cerca.

Monday, October 13, 2014

That's Why You Need Quality Assurance

hohooooo and then I found the answer from Quora but sorry I forget from whom :D

  1. They are not afraid of destructive testing. Developers subconsciously avoid negative scenario testing. If you use an application a specific way, you'll hear them exclaim: "You're not supposed to do that!"
  2. They find hidden defects. Developers in high stress situations may often not reveal low-probability error scenarios, thinking "I'll fix this next time. No one will notice it anyway."
  3. They have greater discipline for defect tracking, prioritization and reporting. Developers are generally averse to documentation, though there are always a lot of exceptions. They tend to hold a lot of defect information in their head. "Oh I already know that one. Johnny and I discussed it and we figured we'll fix it in the patch next month." "Is it being tracked?" "Its already fixed in the branch. So its not a problem."
  4. They don't tire of regression - it's their job. Developers are bored of regression testing. If they are sure a change won't impact a related function logically, they don't test it. Its pointless and boring. QA staff does not take such risks and defects do emerge - we are human after all and cannot think of every scenario.
  5. A dedicated, restricted QA environment enforces deployment discipline, so you have fewer surprises during go-live. Developers have a tendency to tinker with code and databases ad-hoc on every environment they have control over.
  6. Products usually start with great design and usability, but then reality creeps in as some features are too complex, others are just not feasible as designed, competing products introduce a hot new feature, or somebody just got a killer feature idea. Both product managers and developers are up to their ears with minute decisions and changes every day and it is easy to lose sight of the overall experience. QA plays a vital role as a check point to ensure the product remains usable through all this.
  7. There is specialized QA staff for performance testing, vulnerability testing, accessibility testing, etc. and they are much more effective and efficient at these than developers.
  8. Product managers and end-users are not as effective as dedicated QA staff. They have their own day jobs.
lol, I think who worked in this enviroment really understand >_<


Sunday, October 12, 2014

Today's Lyrics - Cantik cantik

Beberapa hari lalu pas streaming radio ada lagu lucu, tapi ga tahu judulnya, apalagi penyanyinya. lucu gimana? ya pokok'e lucu #caseClose

Nah, tadi pas buka youtube ada thumbnail video yang (kayaknya) lucu dan ternyata merupakan video dari lagu lucu yang beberapa hari lalu kudengar *nah loh pie kui bahasane -_-

Penyanyinya Meghan Trainor yang beberapa waktu ini lagu-lagunya nge-hits di youtube. Lagu yang kudengar di radio itu judulnya All About That Bass--aransemennya menurutku lucu--yang berisi pesan kepada para wanita (dan penyanyinya sendiri) bahwa berat badan yang selama ini jadi 'masalah' bagi beberapa wanita sebenarnya bukan masalah. Pesan moralnya menurutku cukup dalem mengingat tren wanita berlomba-lomba untuk tampil cantik dengan definisi tinggi semampai, ramping, dan putih. Ngomong-ngomong tinggi, ramping, putih mah bukannya ciri-ciri mbak kunti yak *krik krik.

Tak jarang untuk bisa tampil cantik, seorang wanita harus merogoh kantong dalam-dalam. Bahkan ada yang pakai berbagai shortcut seperti oprasi plastik misalnya.

Habis buka youtube trus pas buka facebook *uripku kok koyone mung fb karo yutupan tok sih -__-
Nah, ada temen share ini
:: Jangan Puji Anak Perempuan Cantik ::
Ada sebuah kisah menarik yang dituangkan Lisa Bloom, pengarang ‘Think: Straight Talk for Women to Stay Smart in a Dumbed-Down World’. Menurutnya, anak perempuan sekarang bertumbuh dengan keinginan besar untuk tampil cantik, daripada tampil pintar. Mereka lebih khawatir kalau mereka tampak gemuk dan jelek.
Dalam bukunya, ia menunjukkan bahwa 15-18% anak perempuan di bawah dua belas tahun saat ini sudah memakai maskara, eyeliner dan lipstik. Kepercayaan diri anak perempuan menurun kalau tidak merasa cantik. Hampir 25% remaja perempuan akan merasa bangga menang America's Next Top Model daripada memikirkan untuk memenangi Nobel.